- Nama 'Adi' merupakan nama paling umum yang digunakan di Kota Blitar.
- Ada perubahan signifikan dalam pola pemberian nama untuk bayi baru lahir, cenderung lebih modern.
- Masyarakat diharapkan memahami makna dan identitas yang terkandung dalam nama-nama tersebut.
Dinas Penduduk dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Blitar baru-baru ini merilis data mengenai nama-nama yang paling umum digunakan oleh penduduk di wilayahnya. Dalam pengumuman tersebut, terungkap bahwa nama 'Adi' menempati posisi teratas sebagai nama yang paling banyak dipilih, dengan total 6.681 penduduk menggunakannya dari 162.992 jiwa yang tercatat. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan nama tradisional yang terus bertahan di tengah modernitas yang melanda saat ini.
Di urutan kedua, nama 'Ria' mencatatkan sebanyak 6.481 pemakai, diikuti oleh 'Dian' dengan 5.357 orang dan 'Putri' sebanyak 5.266. Nama-nama seperti 'Muhammad', 'Sari', 'Agus', 'Sri', 'Ningsih', dan 'Siti' juga terdaftar dalam sepuluh besar nama yang paling umum. Data ini, menurut David Prianggono, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaatan Data Dispendukcapil, memberikan gambaran yang jelas tentang tradisi dan kebiasaan masyarakat dalam memilih nama bagi anak mereka.
Beralih ke generasi penerus, David menambahkan, pola pemberian nama untuk bayi baru lahir saat ini telah mengalami perubahan. Kini, banyak orang tua di Blitar yang memilih nama lebih panjang dengan nuansa modern, terinspirasi dari nama-nama asing, terutama yang berasal dari bahasa Arab dan Inggris. Meskipun adanya kebebasan dalam pemilihan nama berdasarkan Permendagri Nomor 73 Tahun 2022, aturan yang mengharuskan nama tidak boleh hanya satu kata dan maksimal 60 karakter menunjukkan adanya keinginan untuk mengedepankan identitas yang lebih beragam dan kaya.
Inisiatif Dispendukcapil dalam mengumpulkan data ini tidak hanya berfungsi sebagai catatan administratif, tetapi juga memberikan wawasan terkait perkembangan budaya dan tren di masyarakat Blitar. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat memahami makna dibalik pilihan nama dan merayakan kekayaan identitas budaya lokal dalam setiap nama yang diberikan kepada generasi masa depan.