Jumat, 11 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Ritual Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 Menarik Ribuan Warga Blitar Meski Tanpa Tradisi Gunungan Tumpeng

Ritual Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 Menarik Ribuan Warga Blitar Meski Tanpa Tradisi Gunungan Tumpeng

Ritual Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 Menarik Ribuan Warga Blitar Meski Tanpa Tradisi Gunungan Tumpeng
Poin Penting:
  • Ritual Jamasan Gong Kiai Pradah 2026 tetap menarik ribuan pengunjung meskipun tanpa gunungan tumpeng dan pertunjukan gamelan.
  • Antusiasme masyarakat Blitar terhadap tradisi ini menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap budaya lokal.
  • Pengunjung merasakan perbedaan dalam pelaksanaan acara tahun ini, tetapi tetap berkomitmen untuk melestarikan tradisi.

Pada Kamis, 27 Agustus 2026, ribuan warga memadati Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, dalam rangka ritual budaya Jamasan Gong Kiai Pradah yang digelar setiap bulan Maulid. Meskipun di tengah teriknya matahari, semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam tradisi ini tetap tinggi, memperlihatkan kecintaan mereka terhadap warisan budaya lokal.

Tahun ini, pelaksanaan Jamasan Gong Kiai Pradah menyuguhkan nuansa yang berbeda. Dua gunungan tumpeng yang biasanya terlaksana pada acara ini tidak tampak, dan penampilan gamelan maupun tari macanan yang sering menghiasi awal kegiatan juga ditiadakan. Meski demikian, kesederhanaan acara tidak mengurangi antusiasme para pengunjung yang tetap hadir untuk mengikuti prosesi serta berharap mendapatkan berkah dari air jamasan tersebut.

Salah satu pengunjung, Dinda Ummu Hidayah dari Kecamatan Gandusari, mengungkapkan pengalamannya. Ia hadir untuk mendampingi anak-anak dari sanggar tari yang dibawanya. Dinda menilai pelaksanaan tahun ini terasa berbeda karena ketidakhadiran elemen tradisional yang biasa yang menjadi ciri khas acara. "Tahun ini sedikit berbeda. Tidak ada gamelan live, gunungan tumpeng, maupun tari macanan yang menambah semarak acara," ujarnya.

Perubahan ini mencerminkan dinamika dalam pelestarian tradisi yang senantiasa berevolusi seiring waktu, namun masyarakat Blitar menunjukkan bahwa esensi dan semangat acara tetap hidup. Komitmen masyarakat untuk hadir dan mengikuti ritual ini menjadi bukti kuat akan nilai budaya yang ada, serta harapan mereka agar tradisi ini terus berlangsung di masa mendatang.