Selasa, 13 Oktober 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda › Pendidikan & Budaya › Kontroversi Penampilan Biduan di Harlah Pengajian Gus Iqdam: Tanggapan Kemenag Blitar

Kontroversi Penampilan Biduan di Harlah Pengajian Gus Iqdam: Tanggapan Kemenag Blitar

Kontroversi Penampilan Biduan di Harlah Pengajian Gus Iqdam: Tanggapan Kemenag Blitar
Poin Penting:
  • Persepsi negatif warganet terhadap penampilan biduan di acara harlah pengajian.
  • Tanggapan Kemenag Blitar yang menyatakan penampilan tersebut kurang sesuai.
  • Pentingnya memahami latar belakang jemaah dalam dakwah untuk mengajak perubahan positif.

Acara peringatan hari lahir (harlah) majelis pengajian Sabilu Taubah yang dipimpin oleh Gus Iqdam kembali menjadi sorotan oleh publik, khususnya di kalangan warganet. Kontroversi ini muncul setelah viralnya sebuah video yang menunjukkan penampilan seorang biduan di tengah acara tersebut, yang tampil dengan gerakan tak senonoh. Meskipun berpakaian serba putih yang biasanya diasosiasikan dengan kesopanan, tarian penyanyi tersebut dianggap tidak sesuai dengan konteks acara yang mengusung tema spiritual dan keagamaan.

Kejadian ini memicu berbagai reaksi negatif di media sosial, di mana banyak netizen menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap pilihan pemilik majelis untuk mengundang penyanyi dengan penampilan yang dianggap tidak padu dengan nilai-nilai yang seharusnya diusung dalam pengajian. Masyarakat Blitar merasa kecewa karena acara yang seharusnya mencerminkan nilai-nilai moral, justru mengalami distorsi melalui penampilan yang dianggap kurang tepat.

Menanggapi isu ini, M. Ahmad Zamroni, Plt Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Blitar, menyatakan bahwa ia belum melihat keseluruhan video. Namun, ia menegaskan bahwa penampilan biduan tersebut tidaklah layak untuk sebuah acara pengajian. "Berdasarkan potongan video yang saya lihat, saya menilai penampilan itu kurang tepat untuk acara yang bersifat keagamaan", ucapnya saat berbincang dengan media. Ia juga berharap agar ke depannya, acara budaya dan keagamaan dapat lebih seimbang dan membawa dampak positif bagi umat.

Lebih lanjut, Zamroni mengingatkan bahwa setiap ustaz atau dai memiliki cara unik dalam menyampaikan dakwah. Ia menganggap penting untuk memahami latar belakang jemaah dalam upaya mengajak perubahan menuju yang lebih baik. Pendekatan strategis dianggap penting agar proses edukasi keagamaan bisa berjalan dengan lebih baik di kalangan masyarakat yang beragam ini.