- Pasar Legi adalah ikon perekonomian Blitar yang mengalami kerugian akibat kebakaran dan pandemi.
- Revitalisasi Pasar Legi direncanakan pada 2026 dengan anggaran Rp 624 juta.
- Keberadaan Pasar Legi sangat penting bagi perekonomian lokal dan diharapkan dapat kembali pulih.
BLITAR – Pasar Legi, yang selama satu abad lebih menjadi jantung perekonomian Kota Blitar, kini tengah berjuang untuk bangkit setelah berbagai tantangan menguji ketahanannya. Pasar ini, yang pernah menjadi primadona dan pusat perdagangan terkemuka, mengalami kerugian signifikan akibat kebakaran dahsyat yang melanda pada Juli 2016, serta dampak pandemi Covid-19 yang mengubah cara belanja masyarakat. Menyusul semua tantangan tersebut, Pemerintah Kota Blitar berkomitmen untuk melakukan revitalisasi pada tahun 2026 dengan alokasi anggaran sekitar Rp 624 juta. Para pedagang berharap, perbaikan ini tidak hanya sekadar meningkatkan penampilan fisik pasar, tetapi juga mampu menghidupkan kembali aktivitas jual beli yang sempat lesu.
Jejak sejarah perdagangan Pasar Legi dimulai sejak tahun 1911, berfungsi sebagai pusat perdagangan tradisional di Kota Blitar. Dalam perkembangannya, pasar ini mengalami beberapa tahap revitalisasi pada tahun 1977 dan 1999 untuk mengakomodasi pertumbuhan jumlah pedagang. Masa kejayaan Pasar Legi puncaknya terjadi antara tahun 2000 hingga 2007, ketika Pemerintah Kota Blitar membangun pasar semi-modern dua lantai. Saat itu, Pasar Legi menjadi destinasi utama bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, dengan perputaran uang yang tinggi dari berbagai komoditas pertanian yang bahkan menjangkau daerah-daerah sekitar seperti Tulungagung, Kediri, dan Malang.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Legi, Suhani, yang telah berpengalaman berdagang sejak 1985, masih mengenang masa-masa keemasan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pasar Legi bukan hanya sekedar tempat berbelanja, tetapi juga merupakan simbol penting dari Kota Blitar yang dikenal hingga luar daerah. "Dulu, Pasar Legi bak primadona; banyak pengunjung dari luar kota datang kesini. Ini adalah jujugan dan kebanggaan kita," ungkapnya.
Namun, kebakaran hebat pada 12 Juli 2016, yang berawal sekitar pukul 16.00 WIB, menjadi tantangan terbesar bagi pasar ini. Dengan begitu banyak material yang mudah terbakar dan lorong-lorong yang sempit, pemadam kebakaran harus bekerja keras selama hampir 11 jam untuk menjinakkan api yang meludeskan sebagian besar bangunan pasar yang bersejarah ini. Sebuah upaya kolaboratif dilakukan dengan mengerahkan puluhan mobil pemadam dari Kota Blitar, Kabupaten Blitar, serta dari Kediri dan Tulungagung, untuk mengatasi bencana tersebut.
Kini, harapan semakin tumbuh seiring upaya revitalisasi yang sedang direncanakan. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan Pasar Legi dapat kembali berkembang dan menjadi pusat perbelanjaan yang dinamis bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya.