- Asbani berusia 70 tahun berusaha keras menghidupkan kembali kerajinan payung kertas.
- Kerajinan payung kertas merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan.
- Setelah terhenti selama 10 tahun, Asbani bertekad untuk menghidupkan kembali industri kerajinan ini.
Di tengah arus modernisasi yang melanda, tradisi kerajinan payung kertas di Blitar masih memiliki tempat yang istimewa berkat dedikasi seorang kakek bernama Asbani, berusia 70 tahun, yang tinggal di Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul. Meskipun dunia kerajinan ini sudah lama mengalami penurunan pasca booming-nya produk payung modern, Asbani tidak menyerah. Dia dengan sabar dan telaten menghidupkan kembali keterampilan yang telah dimilikinya sejak puluhan tahun silam.
Setiap langkah dalam pembuatan payung kertas dilakukan sendiri oleh Asbani, mulai dari merangkai belahan bambu, memasangnya pada batang kayu, hingga menempelkan kertas sebagai penutup. Untuknya, kerajinan ini bukan sekadar sebuah usaha, tetapi juga warisan budaya yang perlu dilestarikan. Melalui ketekunannya, Asbani mampu membuat payung kertas yang tidak hanya diminati di Blitar, tetapi juga mendapatkan pesanan dari luar kota.
Namun, perjalanan Asbani tidak selalu mulus. Di masa kejayaannya, dia sempat mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, bahkan melibatkan tetangga untuk membantu proses produksi. Namun, seiring waktu, ketertarikan pelanggan mulai berkurang dan pesanan dari salah satu pelanggan tetap dari Sidoarjo tiba-tiba berhenti, membuat produksi payung kertas nya terhenti total selama sepuluh tahun.
Selama masa hibernasi tersebut, Asbani berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dengan berbagai pekerjaan lain, mulai dari beternak jangkrik hingga memelihara kambing dan sapi. Kini, dengan semangat baru, Asbani bertekad untuk menghidupkan kembali kerajinan payung kertas tersebut, mewariskan keterampilan ini kepada generasi mendatang dan menegaskan pentingnya menjaga tradisi lokal di tengah gempuran modernitas.