- Pedagang mengeluhkan kurangnya sosialisasi tentang kebijakan buka 24 jam di kawasan Makam Bung Karno.
- Wali Kota menyatakan komitmennya untuk mendengar dan mempertimbangkan aspirasi pedagang.
- Pentingnya evaluasi berkala terkait dampak kebijakan terhadap penghidupan masyarakat lokal.
Kawasan wisata religius Makam Bung Karno di Kota Blitar kini dibuka 24 jam, sebuah kebijakan yang memicu reaksi dari para pedagang di sekitarnya. Dalam pertemuan yang diadakan antara Paguyuban Pedagang dan Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, berbagai keluhan terkait implementasi kebijakan tersebut diungkapkan. Para pedagang, khususnya yang berjualan di area belakang makam, merasa tidak mendapat sosialisasi yang cukup sebelum adanya perubahan besar ini. Hal ini membuat mereka khawatir akan dampak negatif terhadap penghidupan mereka.
Salah satu peserta pertemuan, Joko, selaku Ketua Paguyuban Pedagang Putra Sang Fajar, menyampaikan bahwa awalnya pedagang merasa terkaget-kaget dengan kebijakan tersebut karena kurangnya pemberitahuan dari pemerintah. Melalui forum yang dibuka oleh wali kota, mereka berharap bisa menyampaikan aspirasi dan mendiskusikan implikasi dari jam buka baru ini secara terbuka.
Dalam dialog tersebut, Wali Kota Blitar menjelaskan tujuan di balik kebijakan akses 24 jam yang berorientasi pada peningkatan kunjungan dan pengembangan ekonomi lokal. Meski penjelasan tersebut membantu pedagang memahami tindak lanjut pemerintah, banyak di antara mereka yang berharap agar pemerintah tetap melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan ini. Mereka berharap partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan akan diperhitungkan, agar kebijakan ini tidak merugikan sumber pendapatan warga setempat.
Wali Kota juga menegaskan bahwa dirinya berkomitmen untuk mendengar aspirasi dari pedagang dan akan mempertimbangkan masukan yang diterima untuk perbaikan di masa mendatang. Ini menunjukkan niat baik pemerintah untuk menjalin komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat, di tengah keinginan untuk mempromosikan Blitar sebagai destinasi wisata yang lebih ramai dan berorientasi pada masyarakat.