- Museum Fatahillah menyimpan sejarah Batavia dengan penjara bawah tanah yang menampung 50 tahanan.
- Meriam Jagur, simbol kesuburan, menjadi daya tarik sejarah di sekitar museum.
- Halaman museum digunakan sebagai lokasi pelaksanaan hukuman yang memperlihatkan sisi kelam sejarah.
Museum Fatahillah, yang terletak di kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta, menyimpan warisan sejarah Batavia yang penuh dengan kisah kelam. Sebagai salah satu ikon budaya, museum ini tidak hanya menawarkan koleksi objek bersejarah, tetapi juga pengalaman yang mendalam tentang kehidupan masyarakat di masa lalu. Salah satu daya tarik utama museum ini adalah penjara bawah tanahnya, yang pernah digunakan untuk menahan hingga 50 tahanan dalam keadaan sempit dan tidak manusiawi.
Ketika pengunjung memasuki kawasan museum, mereka dapat menyaksikan sisa-sisa jalur trem yang menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat Batavia. Selain itu, terdapat meriam bersejarah, Meriam Jagur, yang bernilai sejarah tinggi dan memiliki berat sekitar 3,5 ton. Meriam ini, yang dibuat di Makau, dihiasi dengan ukiran tangan yang melambangkan kesuburan, mencerminkan kepercayaan masyarakat pada masa itu. Keberadaan meriam ini menambah nuansa sejarah yang kaya di lingkungan museum.
Di dalam gedung museum, halaman yang dulunya digunakan untuk pelaksanaan hukuman mengungkapkan kekerasan yang terjadi di masa lalu. Berbagai jenis hukuman, seperti gantung dan pancung kepala, pernah dilaksanakan di tempat ini dan disaksikan oleh masyarakat. Harga bayar atas kesalahan sering kali sangat berat, dan halaman itulah yang menyimpan permohonan terakhir para terpidana. Dengan mengamati jejak sejarah ini, pengunjung diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Museum Fatahillah dibangun pada tahun 1707, dan secara arsitektur mencerminkan perpaduan antara gaya Eropa dan pengaruh budaya Asia, terutama Tiongkok, yang dikenal dengan istilah gaya Indis. Banyak bagian dari bangunan ini masih mempertahankan material asli yang berusia ratusan tahun, menjadikannya sebagai situs bersejarah yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga untuk dipelajari secara mendalam. Balkon di lantai atas yang digunakan oleh hakim dan pejabat untuk mengawasi pelaksanaan hukuman, memberikan gambaran betapa kerasnya sistem hukum pada masa lalu dan pendinginan hati yang dialami oleh para pelaku hukum pada saat itu.