- Candi Borobudur memiliki lebih dari 1.460 relief naratif yang menggambarkan kebajikan dan sejarah.
- Pemugaran candi melibatkan kerja sama internasional dengan dukungan dana 24 juta dolar AS.
- Proses pemugaran masih dilakukan dan membutuhkan ketelitian dalam pencocokan batu untuk melestarikan struktur yang ada.
Candi Borobudur, sebagai salah satu ikon warisan budaya Indonesia, tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur yang megah, tetapi juga menyimpan kisah-kisah kebajikan yang mendalam. Dengan lebih dari 1.460 relief naratif yang terpatri di dindingnya, candi ini menjadi saksi sejarah perdagangan, kehidupan masyarakat yang multikultural, serta usaha pemeliharaan yang panjang dan penuh tantangan. Penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun telah mengidentifikasi sebagian besar relief yang ada, banyak di antaranya menjelaskan hubungan erat antara perbuatan baik dan balasan yang diterima manusia, seperti yang tergambar dalam relief Karmawibhangga.
Pemugaran Candi Borobudur merupakan upaya kolaboratif yang melibatkan banyak pihak, termasuk Indonesia, UNESCO, dan 26 negara lainnya, dengan dana yang mencapai 24 juta dolar AS, di mana dua pertiganya ditanggung oleh Indonesia. Namun, tantangan pemugaran candi ini masih belum sepenuhnya teratasi. Dalam prosesnya, ditemukan sekitar 12.000 balok batu yang telah terlepas, dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 19 persen yang berhasil dipasang kembali. Sisa batu yang belum terpasang masih memerlukan pencarian pasangan yang tepat agar struktur candi dapat kembali ke bentuk aslinya.
Teknik anastilosis, yang digunakan dalam pencocokan batu, memerlukan ketelitian yang sangat tinggi. Setiap balok harus dicocokkan dengan karakteristik, motif hias, dan sistem sambungan tertentu. Sebuah tantangan tersendiri, terutama pada bagian relung pagar langkan, di mana kesesuaian setiap batu menjadi kunci untuk mengembalikan keindahan dan keutuhan candi.
Relief-relief Candi Borobudur bukan sekadar ornamen, melainkan berfungsi sebagai narasi visual yang mengisahkan nilai-nilai kebajikan dan kehidupan manusia. Penelitian yang telah menghasilkan sekitar 40 buku juga menunjukkan komitmen yang mendalam dari berbagai pihak untuk meneliti dan melestarikan warisan ini, meskipun beberapa bagian relief mengalami erosi dan sulit untuk dibaca. Dengan pengertian dan rasa kepemilikan yang mendalam, masyarakat Blitar dapat semakin menghargai Candi Borobudur sebagai salah satu kekayaan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.