- Tino Marvel mengalami kesulitan beradaptasi di sekolah sebelumnya dan memilih untuk keluar.
- Keluarga Tino menghadapi tantangan ekonomi dengan ibu yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan.
- Sekolah Rakyat Kota Blitar diharapkan menjadi solusi untuk pendidikan Tino yang lebih baik dan inklusif.
Tino Marvel, seorang siswa yang sebelumnya menghabiskan tiga minggu di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), akhirnya menemukan harapan baru untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Rakyat Kota Blitar. Jarak sekolah yang jauh dari rumah dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru menyebabkan Tino terpaksa meninggalkan sekolah tersebut. Ia bahkan pernah mencoba untuk belajar di pondok pesantren, namun tidak bertahan lama karena merasa tidak nyaman. Dalam upaya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, Tino dengan penuh harap mengajukan diri untuk mengikuti program pendidikan di Sekolah Rakyat dengan bantuan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan ketua RT setempat.
Perjalanan Tino menjadi lebih emosional ketika mengenang seragam baru yang dibeli oleh ibunya, Sari Apriliya. Dengan biaya lebih dari Rp1 juta untuk tiga stel seragam, pengeluaran tersebut adalah beban yang cukup berat bagi keluarga yang sebelumnya dihadapkan pada tantangan ekonomi. Sari, yang bekerja sebagai buruh warung malam dengan penghasilan harian Rp40 ribu, berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Untungnya, keadaan sedikit membaik setelah Sari dan suaminya bekerja di bagian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan gaji dua mingguan sekitar Rp2 juta.
Namun, faktor biaya bukan satu-satunya alasan di balik keputusan Tino untuk keluar dari sekolah. Jarak yang jauh dan kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan baru menjadi kendala utama. "Saya hanya bertahan tiga minggu di SMK, lalu kembali keluar. Jaraknya kejauhan dan sulit untuk beradaptasi. Sebelumnya saya juga mencoba masuk pondok seminggu, tetapi tidak merasa kerasan," ungkap Sari, menggambarkan kondisi yang dialami anaknya.
Kini, Sekolah Rakyat Kota Blitar diharapkan dapat memberikan Tino sebuah lingkungan belajar yang lebih ramah dan inklusif. Dengan dukungan dari para pendamping dan komunitas, Tino bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk meraih cita-citanya dan merasakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan, harapan yang sangat dinantikan oleh keluarganya dan masyarakat sekitar.