- Kota Blitar masih aman dari rabies, tanpa kasus pada manusia hingga saat ini.
- Kewaspadaan dan deteksi dini diperlukan untuk mencegah potensi penyebaran rabies.
- DKPP menjalankan program sterilisasi kucing untuk mengendalikan populasi dan risiko penularan.
Di tengah situasi rabies yang kian mengkhawatirkan di beberapa daerah, Kota Blitar tetap bertahan sebagai wilayah yang aman dari ancaman penyakit ini. Dinas Kesehatan dan Peternakan Perikanan (DKPP) Kota Blitar melalui Kepala DKPP, drh Dewi Masitoh, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kasus rabies yang terdeteksi menyerang manusia akibat gigitan hewan, baik anjing maupun kucing. Ini menjadi berita baik bagi masyarakat, namun kawasan ini tetap mengedepankan kewaspadaan serta membuat langkah-langkah preventif guna menjaga status aman tersebut.
Upaya peningkatan kewaspadaan ini meliputi deteksi dini dan pencegahan yang masif. Mengingat rabies adalah penyakit zoonosis yang bisa menular dari hewan ke manusia, antisipasi tidak bisa dianggap remeh. Dewi Masitoh menekankan pentingnya pengawasan terhadap kesehatan hewan peliharaan, terutama bagi mereka yang mungkin berinteraksi langsung dengan masyarakat. Hal ini semakin mendesak mengingat ada beberapa daerah lain, khususnya di luar Jawa, yang sudah mengalami peningkatan kasus rabies seperti di Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebagai bagian dari pencegahan, DKPP Kota Blitar juga melaksanakan program sterilisasi atau kastrasi untuk mengendalikan populasi kucing, yang merupakan salah satu hewan potensial penular rabies. Dengan langkah ini, diharapkan angka populasi kucing dapat diminimalisir, sekaligus menurunkan risiko penularan. DKPP percaya bahwa usaha bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kesehatan hewan peliharaan akan sangat berpengaruh untuk menjaga kesehatan publik secara keseluruhan.