Selasa, 14 Juli 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Ekonomi Inovasi Anggit: Dari Beternak Burung Kicau ke Kesuksesan Akademis di Blitar

Inovasi Anggit: Dari Beternak Burung Kicau ke Kesuksesan Akademis di Blitar

Inovasi Anggit: Dari Beternak Burung Kicau ke Kesuksesan Akademis di Blitar
Poin Penting:
  • Anggit Mas Arifudin berhasil membiayai kuliah S2 Teknik Sipilnya melalui usaha penangkaran burung.
  • JSPF Jogja telah menjadi rujukan para kolektor burung di Indonesia dengan delapan jenis burung yang dikelola.
  • Setiap transaksi dilengkapi dokumen legalitas untuk memberikan jaminan kepada pembeli.

Di tengah tren baru hobi peliharaan, Anggit Mas Arifudin, pemilik JSPF Jogja, berhasil mengubah kecintanya terhadap burung kicauan menjadi sumber pendanaan untuk pendidikannya. Berasal dari Sleman, Yogyakarta, Anggit merupakan contoh nyata bahwa kegigihan dan hasrat dapat menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Sejak mendirikan JSPF pada tahun 2011, ia telah berhasil mengembangkan usaha penangkaran burung kicau yang kini terkenal di kalangan kolektor burung di seluruh Indonesia.

Dengan modal awal dari uang saku saat SMA, Anggit memulai perjalanan bisnisnya dengan satu pasang burung kacer Jawa. Dukungan orang tuanya akhirnya mendorongnya untuk mewujudkan impian tersebut. Pada tahun 2014, JSPF resmi didirikan, dinamai berdasarkan nama ayahnya, Jumarlan Siswo Pranjono, dan kemudian dipatenkan menjadi CV pada tahun 2022 dengan arti Jalaran Senang Peksi, yang mencerminkan kecintaannya terhadap burung.

Keberhasilan JSPF diukur bukan hanya dari omzet yang terus meningkat, tetapi juga dari keahlian Anggit dalam mendesain lingkungan penangkaran yang nyaman dan efisien menggunakan latar belakang pendidikannya di Teknik Sipil UGM. Ia juga cermat dalam menjalankan operasional, memastikan setiap transaksi dilengkapi dengan dokumen legalitas untuk menjaga kepercayaan pelanggan.

Saat ini, JSPF mengelola delapan jenis burung kicauan yang paling dicari, termasuk murai batu dan cucak rowo, serta burung yang dilindungi seperti jalak Bali yang telah memperoleh izin resmi dari pihak berwenang. Melalui kisah inspiratif Anggit, masyarakat Blitar dapat melihat bahwa hobi yang dikelola dengan serius bisa menjadi sumber kehidupan yang tidak hanya mendukung pendidikan, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi pelestarian satwa.