- Candi Penataran berasal dari kekhawatiran masyarakat terhadap letusan Gunung Kelud.
- Raja Kertajaya mendirikan tempat suci di Palah setelah letusan gunung yang tidak seburuk yang diperkirakan.
- Kompleks Candi Penataran menjadi pusat spiritual yang berkembang seiring waktu, diperkaya dengan sejarah dan budaya lokal.
BLITAR - Candi Penataran, sebagai salah satu situs bersejarah yang terletak di wilayah Blitar, tidak dapat dipisahkan dari latar belakang kegundahan masyarakat pada masa lalu terhadap aktivitas Gunung Kelud. Dalam konteks sejarahnya, kompleks candi ini awalnya merupakan tempat pemujaan yang terletak di Palah, yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Kertajaya dari Kerajaan Kedhiri. Dikenal dengan letusannya yang mengerikan, Gunung Kelud telah menggetarkan jiwa penduduk Jawa kuno dan menginspirasi berbagai ritual keagamaan sebagai bentuk penghayatan serta upaya memahami kekuatan alam yang mengintimidasi.
Aktivitas vulkanik yang tak terduga dari Gunung Kelud menciptakan rasa khawatir di kalangan masyarakat, yang tercermin dalam berbagai catatan sejarah, termasuk di dalam Tantu Panggelaran. Mereka meyakini bahwa letusan gunung adalah refleksi dari kemarahan dewa api yang bertempat di dalam gunung ini. Menyikapi ancaman tersebut, seiring dengan upaya fisik seperti pembangunan bendungan dan saluran sungai, masyarakat Jawa kuno juga menanggapi dengan membangun tempat-tempat pemujaan di sekitar lereng gunung sebagai langkah spiritual.
Dalam kisah sejarah yang terungkap, Raja Kertajaya merasakan kekhawatiran yang mendalam menyusul letusan yang pernah terjadi. Namun, berkat puja yang dilakukan oleh seorang pendeta bernama Empu Iswara Mapanji Jagwata, kerusakan yang ditimbulkan ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Kepercayaan ini mendorong Raja Kertajaya untuk menetapkan Palah sebagai kawasan suci yang bebas pajak atau sima, di mana sebuah tempat pemujaan dibangun dan menjadi pondasi awal kompleks Candi Penataran yang kita kenal sekarang.
Seiring berjalannya waktu, kompleks Candi Penataran tidak hanya berhenti pada pembangunan awalnya di masa Kedhiri, tetapi terus mengalami perkembangan dan perluasan di tangan penguasa sesudahnya. Hal ini semakin memperkuat posisi Candi Penataran sebagai pusat spiritual dan sejarah yang kaya akan nilai-nilai budaya lokal, serta sebagai destinasi penting yang perlu dijaga dan dikembangkan untuk generasi mendatang.