- Pihak sekolah menyerahkan penanganan kasus bullying kepada polisi.
- Insiden bullying terjadi di dalam kelas saat jam istirahat dan diduga dipicu oleh komentar di TikTok.
- Masyarakat Blitar diimbau untuk lebih peka terhadap masalah bullying di lingkungan sekolah.
Kasus perundungan dengan kekerasan fisik yang melibatkan dua siswa di MTs Darul Huda, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, semakin memunculkan keprihatinan di kalangan masyarakat. Hingga saat ini, pihak sekolah belum memberikan sanksi kepada terduga pelaku, berinisial FJ, dan memilih untuk menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada aparat kepolisian dan instansi terkait. Ini menunjukkan komitmen sekolah untuk memastikan proses hukum dilaksanakan dengan adil.
Insiden tersebut melibatkan GD, seorang siswa baru yang merupakan murid pindahan, dan terjadi di dalam ruang kelas saat jam istirahat. Diduga, peristiwa kekerasan ini dipicu oleh konflik komentar dalam siaran langsung di aplikasi TikTok, yang berujung pada tindakan fisik. Kejadian ini berlangsung ketika seluruh siswa sedang berkumpul untuk kegiatan pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG), membuat pengawasan dari pihak guru menjadi minim dan akhirnya luput dari perhatian.
Wakil Kepala Humas MTs Darul Huda, Angger Hadi Santoso, menyampaikan bahwa pihak sekolah masih menunggu keputusan dari pihak berwenang mengenai sanksi yang akan dikenakan kepada siswa yang terlibat. "Kami berharap anak-anak tetap dapat belajar dengan tenang, namun jika diperlukan tindakan hukum lebih lanjut, kami akan siap untuk memberikan dukungan penuh," ujar Angger ketika ditemui awak media baru-baru ini.
Keberanian GD untuk mengakui kondisi sebenarnya menjadi hal yang patut diapresiasi, meski sempat mencoba menutupi peristiwa yang menimpanya dengan mengaku jatuh dari kamar mandi. Masyarakat Blitar diharapkan lebih peka terhadap fenomena bullying dan mendukung program-program edukasi yang mencegah aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Kesadaran kolektif dalam menciptakan budaya sekolah yang aman sangat diperlukan demi perkembangan generasi mendatang.