- Rumah Haruku adalah hunian yang menggabungkan arsitektur tradisional dan kearifan lokal di Bali.
- Raisa menjadikan rumah ini sebagai penghormatan terhadap akar Maluku dan leluhurnya.
- Proses penemuan lokasi Rumah Haruku dimulai dari eksplorasi dengan suami dan melibatkan komunitas lokal.
Di Pejeng, Bali, sebuah hunian bernama Rumah Haruku memancarkan perpaduan harmonis antara kearifan lokal, arsitektur tradisional Indonesia, dan keindahan alam sekitarnya. Rumah yang merupakan milik Raisa, seorang desainer asal Belanda, bersama pasangannya Tijn, bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga merupakan penghormatan mendalam terhadap akar budaya Maluku yang mereka junjung. Nama 'Haruku' diambil dari Pulau Haruku, tempat leluhur Raisa berasal, melambangkan ikatan emosional yang kuat dengan warisan budaya dan cara hidup yang sejalan dengan alam.
Raisa dan Tijn telah tinggal di Bali selama lebih dari empat tahun dan merasakan kedamaian serta konektivitas yang mendalam dengan alam, yang semakin memperkuat keinginan Raisa untuk kembali ke asal-usul leluhurnya. Momen berkunjung ke Maluku mengubah pandangannya, dari sekedar pengalaman wisata menjadi perjalanan batin yang membawa kedamaian dan pengertian tentang identitas serta nilai-nilai kehidupan keluarga. Rumah Haruku tidak hanya menjadi tempat rehat, tetapi juga lambang perjuangan orang tuanya yang telah berjuang keras untuk generasi mendatang.
Konsep pembangunan rumah ini terinspirasi saat Raisa dan Tijn menjelajahi kawasan sekitar. Pada tahun lalu, saat mereka sedang berjalan santai dengan anjing peliharaan mereka, keindahan sawah dan hutan yang menghijau menginspirasi Raisa untuk mengukir impiannya tinggal di lokasi tersebut selamanya. Tak lama setelah itu, interaksi dengan seorang petani lokal memunculkan kesempatan untuk memiliki sebidang tanah yang strategis, di mana Rumah Haruku kini berdiri. Melalui proses yang intuitif dan penuh makna, hunian ini menjadi simbol ikatan mereka dengan tanah dan lingkungan sekitarnya, serta warisan budaya yang terus hidup.