- 287 dari 1.334 perkara perceraian di Blitar disebabkan masalah ekonomi.
- Persoalan ekonomi sering kali berkaitan dengan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan keluarga dan tanggung jawab nafkah.
- Faktor lain yang menyebabkan perceraian termasuk perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Hingga Agustus 2026, Pengadilan Agama (PA) Blitar mencatat bahwa total perceraian yang terjadi mencapai 1.334 perkara. Menariknya, sekitar 287 atau seperlima dari jumlah tersebut dipicu oleh persoalan ekonomi dalam rumah tangga. Pengaruh tekanan ekonomi sangat nyata dalam dinamika hubungan pasangan, di mana tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat menyebabkan ketegangan yang berkepanjangan.
Ahmad Syaukani, Humas PA Blitar, menjelaskan bahwa persoalan ekonomi ini lebih kompleks dari sekadar ketidakmampuan salah satu pasangan untuk bekerja. Konflik sering kali muncul ketika pendapatan yang ada tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga atau ketika tanggung jawab nafkah tidak dilaksanakan dengan baik. "Ketidakcukupan ini dapat memicu ketidakpuasan dan berujung pada pertikaian, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat berakhir pada perceraian," ucap Syaukani.
Di samping faktor ekonomi, PA Blitar juga mencatat beberapa penyebab lain yang menjadi latar belakang terjadinya perceraian. Sebanyak 52 perkara disebabkan oleh perselingkuhan, sedangkan 33 kasus terkait kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berbagai isu lain, seperti perjudian, tingkah laku salah satu pasangan yang meninggalkan tanggung jawab rumah tangga, hingga kebiasaan mengonsumsi minuman keras, juga berkontribusi terhadap fenomena perceraian ini.
Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa kesiapan pasangan sebelum menikah harus dipandang lebih mendalam. Selain komitmen emosional, kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan keterbukaan dalam berkomunikasi mengenai kondisi ekonomi menjadi unsur krusial dalam menjaga harmonisasi rumah tangga. Masyarakat Blitar perlu menyadari pentingnya diskusi terbuka tentang keuangan untuk mencegah munculnya ketidakcocokan yang berujung pada perceraian.