- Anomali dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional dapat mempengaruhi status kesejahteraan warga.
- Terdapat kasus identitas yang dipinjam untuk kredit kendaraan oleh majikan.
- Rumah yang sudah dijual namun belum balik nama masih tercatat atas nama pemilik lama, memperburuk akurasi data.
Data yang mencerminkan kesejahteraan masyarakat sering kali tidak mencerminkan realitas ekonomi di lapangan. Hal ini diungkapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Blitar, yang menemukan berbagai anomali dalam penyusunan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Temuan ini menimbulkan kekhawatiran akan akurasi data yang digunakan dalam program bantuan sosial bagi warga Blitar.
Salah satu contoh anomali yang menarik perhatian adalah adanya individu yang secara salah terdaftar dalam kelompok desil bawah, namun datanya menunjukkan kepemilikan kendaraan bermotor. Setelah diselidiki lebih lanjut, terungkap bahwa kendaraan tersebut bukanlah milik pribadi, melainkan identitas peminjam untuk keperluan kredit kendaraan milik majikan. Ini menunjukkan perlunya ketelitian dalam data untuk mencegah kesalahan penempatan status ekonomi warga.
Lebih mengejutkan lagi, ditemukan kasus pada kelompok lanjut usia di mana rumah yang sudah terjual atau berpindah tangan belum diurus proses balik namanya. Akibatnya, aset-aset tersebut masih tercatat atas nama pemilik lama, memberikan gambaran yang keliru mengenai status ekonomi dan kesejahteraan pemilik baru.
Kepala BPS Kota Blitar, Hanung Pramusito, menjelaskan bahwa DTSEN dibentuk berdasarkan kolaborasi data dari 19 kementerian dan lembaga yang dipadukan berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Namun, kompleksitas dalam pemadanan data membuat beberapa ketidaksesuaian tidak terhindarkan. Hal ini memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak agar data yang ada benar-benar mencerminkan kondisi kehidupan masyarakat dan mendukung program-program sosial dengan tepat.