- Lebih dari 2.200 warga Blitar belum melakukan perekaman KTP elektronik, berisiko atas nonaktifnya NIK.
- Dispendukcapil aktif melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah untuk mendorong perekaman KTP.
- Masyarakat diimbau untuk segera melakukan perekaman guna menghindari kendala administrasi di masa depan.
Kabupaten Blitar menghadapi tantangan serius dengan lebih dari 2.200 warganya yang belum melakukan perekaman KTP elektronik, yang dapat berakibat pada nonaktifnya nomor induk kependudukan (NIK) mereka. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Blitar, melalui Kepala Dinas Tunggul Adi Wibowo, mengungkapkan bahwa hingga 14 Juni 2026, terdapat 2.272 NIK yang berisiko terhapus karena ketidakpatuhan terhadap perekaman e-KTP. Perekaman ini menjadi krusial untuk memastikan identitas resmi dan akses terhadap layanan publik.
Dispendukcapil menyikapi masalah ini dengan mengadakan berbagai inisiatif, termasuk menjemput bola di sekolah-sekolah untuk mendorong perekaman e-KTP pada kalangan pelajar yang telah mencapai usia 17 tahun. Tunggul menekankan pentingnya kesadaran masyarakat tentang urgensi perekaman KTP elektronik, terutama bagi individu yang akan beranjak dewasa pada 31 Desember 2026.
Ada beberapa faktor yang berkontribusi pada rendahnya angka perekaman ini, termasuk keberadaan pemilik NIK yang mungkin berada di luar wilayah, ketidaktahuan keluarga mengenai status seseorang yang telah meninggal, hingga sikap enggan dari sejumlah siswa untuk mengurus perekaman. Dengan pendekatan yang lebih aktif dan informatif, Dispendukcapil berharap masyarakat dapat memahami bahwa perekaman KTP elektronik tidak hanya merupakan kewajiban, tetapi juga langkah penting untuk menghindari kendala administratif di masa depan. Perekaman e-KTP menjadi fondasi dalam upaya mengakses berbagai layanan, baik itu pendidikan, kesehatan, hingga sosial.
Untuk itu, Tunggul mengimbau kepada seluruh masyarakat yang belum melakukan perekaman agar segera melakukannya sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu 30 Juni 2026. Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.