- Ketua Komisi I DPRD Blitar terangkan bahwa 86% kasus HIV baru berasal dari luar kota.
- Fenomena LGBT di media sosial dinilai mempercepat penyebaran HIV.
- Perlu sinergi antarinstansi untuk edukasi dan pencegahan penyebaran HIV.
Ketua Komisi I DPRD Kota Blitar, Agus Zunaidi, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya terhadap lonjakan kasus HIV yang tercatat mencapai 50 kasus baru. Dalam rapat kerja yang diadakan bersama Dinas Kesehatan, terungkap bahwa mayoritas dari penderita tersebut, yakni 43 orang, berasal dari luar kota, sedangkan 7 lainnya merupakan warga asli Blitar. Meskipun demikian, Agus menekankan bahwa fakta ini seharusnya tidak membuat instansi terkait lengah dalam upaya penanganan dan pencegahan penyebaran virus berbahaya ini.
Agus mengungkapkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu tempat yang menonjol dalam memicu perilaku penyimpangan seksual, termasuk fenomena LGBT yang semakin terbuka. Hal ini dikatakannya dapat memberikan dampak langsung terhadap penyebaran HIV di masyarakat. Karena itu, Agus mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif dalam meningkatkan pengawasan terhadap perilaku ini serta melakukan sosialisasi dan edukasi yang menyasar ke dasar-dasar masyarakat.
Menurut Agus, penanggulangan penyebaran HIV tidak dapat dipikul oleh Dinas Kesehatan saja, melainkan memerlukan keterlibatan banyak pihak. Dia mengusulkan agar camat, lurah, rumah sakit, dan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) lintas sektor bersinergi untuk menciptakan gerakan masif dan terstruktur menuju tujuan yang sama, yaitu memutuskan mata rantai penularan.
Walaupun Agus menyadari tantangan anggaran yang dihadapi, ia menyerukan agar pemangku kebijakan tidak menjadikan hal tersebut sebagai penghalang untuk bertindak. Dia menekankan pentingnya penggunaan platform digital untuk menyebarkan pesan edukasi kesehatan, serta menyarankan integrasi sosialisasi mengenai bahaya HIV dan fenomena LGBT dalam program-program unggulan Pemkot Blitar, seperti program Kencan SAE, agar bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Selain itu, kesadaran pasien yang terkonfirmasi positif dalam pengobatan juga menjadi fokus perhatian, karena banyak yang menghentikan terapi secara sepihak setelah merasa fisik mereka membaik.