- Selawat Asghil dikenal luas dan dilantunkan oleh vokalis cilik di perayaan satu abad NU.
- Sosok Imam Ja'far ash-Shadiq diakui sebagai pencipta Selawat Asghil dengan latar belakang sejarah yang kaya.
- Doa dalam Selawat Asghil mencerminkan permohonan keselamatan dan penolakan terhadap kezaliman.
Selawat Asghil kembali mencuri perhatian publik saat dilantunkan oleh sekelompok vokalis cilik dalam perayaan satu abad Nahdlatul Ulama (NU), yang diadakan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Selasa, 7 Februari 2023. Penampilan yang dipadu dengan dukungan paduan suara dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel dan iringan orkestra yang dipimpin oleh maestro musik Indonesia, Addie MS, menyuguhkan suasana yang megah dan mengharukan. Dalam momen tersebut, Selawat Asghil tidak hanya menjadi sekadar lagu, tetapi juga memuat makna spiritual yang dalam bagi masyarakat, khususnya bagi umat Islam di Blitar.
Selawat Asghil, yang rutin dilantunkan di berbagai masjid dan musala, ternyata memiliki latar belakang yang kaya. Dikenal luas di kalangan masyarakat, selawat ini merupakan karya dari Imam Ja'far ash-Shadiq, salah satu ulama terkemuka yang berasal dari zuriat Rasulullah SAW. Dalam sejarahnya, Imam Ja'far ash-Shadiq hidup di masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah, sebuah periode yang dicirikan oleh konflik dan intrik politik yang kompleks. Keturunan Rasulullah pada masa tersebut menghadapi banyak tekanan, terutama di bawah pemerintahan Yazid bin Muawiyah.
Menariknya, dalam suasana penuh tantangan itu, Imam Ja'far ash-Shadiq kerap melaksanakan doa qunut Subuh bersama jamaahnya, yang kemudian berujung pada redaksi doa yang sangat mirip dengan Selawat Asghil. Doa tersebut berisi permohonan kepada Allah untuk memberikan keselamatan serta menghentikan berbagai kezaliman yang diterima oleh kaum yang teraniaya. Berita ini tidak hanya memberikan informasi seputar asal usul Selawat Asghil, tetapi juga mengajak masyarakat Blitar untuk lebih memahami nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Islam yang terkandung di dalamnya.
Imam Ja'far ash-Shadiq wafat pada tahun 138 Hijriah, namun warisannya melalui Selawat Asghil terus hidup dalam ingatan umat. Dalam perayaan satu abad NU ini, penampilan anak-anak vokalis cilik tidak hanya menjadi sorotan, tetapi juga merangkum perjalanan panjang serta makna mendalam dari setiap lafaz yang dilantunkan. Dengan demikian, perayaan ini menjadi momen penting untuk merefleksikan sejarah dan memperkuat tali persaudaraan among umat Islam, terutama di wilayah Blitar.