- Candi Penataran merupakan candi terluas di Jawa Timur dengan nilai sejarah tinggi.
- Candi ini menjadi simbol kejayaan tiga kerajaan besar: Kediri, Singasari, dan Majapahit.
- Ritual yang dilakukan di Candi Penataran diyakini untuk menangkal letusan Gunung Kelud dan bencana alam.
BLITAR – Candi Penataran, yang terletak di Kabupaten Blitar, merupakan salah satu warisan sejarah terpenting Indonesia. Berdiri di lereng barat Gunung Kelud, kompleks candi yang beraliran Hindu ini bukan hanya dikenal sebagai candi terluas di Jawa Timur, namun juga diyakini berfungsi sebagai pusat ritual kerajaan untuk mengatasi ancaman letusan Gunung Kelud yang pernah terjadi di masa lalu.
Candi ini adalah bukti kejayaan tiga kerajaan besar Nusantara: Kediri, Singasari, dan Majapahit. Sejak berabad-abad lalu, kawasan ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan ritual yang diadakan oleh para raja. Sisa-sisa keagamaan dan kebudayaan yang ada di kompleks ini mencerminkan betapa pentingnya Candi Penataran bagi masyarakat lokal dan religiusitas kerajaan pada masa tersebut.
Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, dengan ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut dan luas sekitar 12.946 meter persegi. Kompleks ini terdiri dari tiga halaman utama, yaitu halaman depan, tengah, dan belakang, yang dipenuhi dengan berbagai bangunan monumental. Sejarah penciptaan Candi Penataran dimulai pada era Kerajaan Kediri di sekitar tahun 1197 Masehi, dilanjutkan dalam masa Kerajaan Singasari, hingga ketingkat kemegahan di masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365 Masehi, nama Candi Penataran dicantumkan, memunculkan catatan bahwa Raja Hayam Wuruk mengunjungi kawasan ini untuk melaksanakan ritual keagamaan. Hal ini menunjukkan posisi penting Candi Penataran sebagai candi negara dan pusat spiritual bagi Kerajaan Majapahit. Lokasi yang strategis, dekat dengan Gunung Kelud yang dikenal sebagai gunung api aktif, diduga menjadi alasan mengapa kompleks ini dibangun di tempat itu. Para penguasa dahulu meyakini bahwa ritual yang dilakukan di sana dapat mendatangkan keselamatan dan menanggulangi bencana alam, dengan puja kepada Dewa Siwa sebagai harapan pertolongan dan perlindungan.