- Haul ke-69 Mbah Moedjair dihadiri masyarakat dan keluarga untuk mengenang jasa-jasa beliau.
- Acara diisi dengan khotmil Quran dan doa bersama, diikuti dengan tabur bunga.
- Mbah Moedjair dikenang sebagai pionir budidaya ikan mujair di Indonesia sejak penemuan cikal bakalnya pada tahun 1936.
Mbah Moedjair, sosok yang tak terpisahkan dari sejarah budidaya ikan mujair, kembali dikenang oleh masyarakat Blitar dalam acara haul ke-69 yang diadakan di area makam Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, pada Senin (7/9). Acara ini dihadiri oleh keluarga besar serta masyarakat setempat yang ingin memberikan penghormatan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan perikanan air tawar di Indonesia.
Dalam acara haul tersebut, dilakukan khotmil Quran dan doa bersama untuk mengenang jasa-jasa Mbah Moedjair dan istrinya, Mbah Partimah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk berdoa tetapi juga sebagai refleksi atas perjuangan dan dedikasi Mbah Moedjair dalam memajukan budidaya ikan mujair yang hingga saat ini masih memberikan manfaat kepada masyarakat.
Selesai prosesi doa, masyarakat dan keluarga melakukan tabur bunga di pusara Mbah Moedjair dan Mbah Partimah. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan dan pengingat betapa pentingnya warisan yang ditinggalkan oleh leluhur mereka. Satrio Wibowo, cicit Mbah Moedjair, mengungkapkan bahwa kegiatan haul ini adalah waktu bagi keluarga dan warga untuk bersatu dalam mengingat jasa-jasa yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Sejarah ikan mujair di Indonesia berawal dari penemuan Mbah Moedjair pada 25 Maret 1936, ketika ia menemukan cikal bakal ikan ini di muara Sungai Serang, Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo. Pada awalnya, ikan yang sekarang dikenal luas oleh masyarakat tersebut disebut iwak laut, dan karakteristik air payau di daerah tersebut memberikan peluang bagi pengembangan budidaya ikan mujair yang kini menjadi salah satu komoditas unggulan di perikanan lokal.