Selasa, 21 Juli 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Ekonomi Kesuksesan Budidaya Belut di Kolam Terpal: Tips dan Strategi dari Wardi di Sleman

Kesuksesan Budidaya Belut di Kolam Terpal: Tips dan Strategi dari Wardi di Sleman

Kesuksesan Budidaya Belut di Kolam Terpal: Tips dan Strategi dari Wardi di Sleman
Poin Penting:
  • Budidaya belut di kolam terpal menjadi peluang usaha menjanjikan dengan modal terbatas.
  • Kolam terpal dianggap ideal untuk pemula karena biaya pembuatan yang lebih rendah dibandingkan kolam permanen.
  • Media tanam yang tepat adalah kunci keberhasilan dalam budidaya belut.

SLEMAN - Budidaya belut di kolam terpal semakin digemari sebagai peluang usaha yang menjanjikan, terutama bagi masyarakat yang ingin berwirausaha dengan modal terbatas. Wardi, seorang petani belut asal Dusun Sabrang Wetan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah membagikan pengalaman dan teknik sukses budidaya yang dapat menjadi acuan bagi para pemula. Dalam penjelasannya, ia menggarisbawahi pentingnya persiapan media, pemilihan bahan, dan perawatan yang tepat untuk mencapai hasil panen yang maksimal.

Menurut Wardi, kolam terpal menjadi alternatif yang ideal bagi calon petani belut karena biaya pembuatan yang lebih ringan dibandingkan kolam permanen yang terbuat dari beton atau fiber. Dengan metode ini, masyarakat dapat memulai usaha budidaya belut tanpa harus mengeluarkan modal yang besar, memungkinkan mereka untuk belajar dan menguasai teknik budidaya sebelum beralih ke skala yang lebih besar.

Wardi merekomendasikan penggunaan kolam sederhana berukuran 1 x 2 meter dengan tinggi sekitar 50 sentimeter sebagai media budidaya yang efektif. Ia menekankan bahwa meskipun kolam permanen dapat digunakan, biaya yang lebih tinggi mungkin menjadi penghalang bagi mereka yang baru ingin terjun ke dunia budidaya ini. Media tanam juga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pemeliharaan belut; oleh karena itu, Wardi memadukan empat bahan utama dalam komposisi yang tepat: 50 persen lumpur, 15 persen gedebok pisang, 15 persen kotoran sapi, dan 10 persen jerami padi.

Dengan pendekatan yang praktis dan hemat biaya ini, Wardi berharap dapat mendorong lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi dalam budidaya belut. Keberhasilan usaha ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan pribadi, tetapi juga dapat memberikan kontribusi positif bagi ekonomi lokal di Sleman dan sekitarnya.