- Barongan Kucingan Blitar kembali membuktikan eksistensinya di tengah masyarakat melalui pergelaran kolosal.
- Penampilan maestro berusia 91 tahun menjadi simbol ketahanan dan pelestarian seni tradisional.
- Bupati Blitar mendorong Barongan Kucingan untuk diusulkan sebagai warisan budaya nasional.
Barongan Kucingan Blitar kembali menunjukkan keberadaannya sebagai salah satu warisan seni tradisional yang kaya nilai budaya di Bumi Penataran. Dalam pergelaran kolosal yang dilaksanakan di depan Alun-Alun Lodoyo pada Sabtu malam (1/8), ribuan masyarakat Blitar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas lokal menjelang peringatan Hari Jadi Kota Blitar yang ke-702.
Acara tersebut menampilkan penampilan luar biasa dari seorang maestro Barongan Kucingan berusia 91 tahun, yang tidak hanya berhasil menarik perhatian penonton tetapi juga menjadi simbol ketahanan dan pelestarian seni tradisional di tengah gempuran budaya modern. Dengan gerakan lincah yang menyerupai tingkah laku kucing, para pembarong menyajikan atraksi yang penuh energi dan keakraban, membuktikan bahwa seni ini masih hidup dan berkembang di kalangan generasi muda melalui pengorbanan dan dedikasi pelaku seni.
Pergelaran ini mengikutsertakan 70 pembarong, yang mencerminkan kekuatan komunitas seni tradisional yang masih bertahan hingga saat ini. Angka tersebut dipilih sebagai lambang peringatan Hari Jadi Blitar, sekaligus menggambarkan keragaman dan kekayaan kearifan lokal. Suara dentuman kendang dan sorak-sorai penonton semakin menambah semarak suasana, menjadikan malam itu sebagai momen yang tak terlupakan bagi semua yang hadir.
Bupati Blitar, Rijanto, memberikan apresiasi terhadap pelestarian seni ini dan mendorong agar Barongan Kucingan dapat diusulkan menjadi warisan budaya nasional. Dengan dukungan pemerintah dan antusiasme masyarakat, diharapkan Barongan Kucingan tidak hanya menjadi kebanggaan daerah tetapi juga menjadi bagian penting dari budaya Indonesia yang diakui di tingkat nasional.