- Disperindag Blitar mewajibkan pembaruan harga harian untuk meningkatkan pengawasan bahan pokok.
- Pembaruan data melalui Siska Perbapo bertujuan untuk mendeteksi lonjakan harga lebih cepat.
- Kondisi harga bahan pokok di Blitar saat ini masih stabil meskipun ada fluktuasi pada beberapa komoditas.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar telah mengambil langkah strategis untuk memperkuat pengawasan terhadap harga bahan pokok. Dalam upaya mencegah lonjakan harga yang dapat merugikan masyarakat, pihak Disperindag mewajibkan seluruh petugas di pasar tradisional untuk memperbarui data harga setiap hari. Pembaruan ini dilakukan melalui Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siska Perbapo), dengan tenggat waktu pengisian hingga pukul 12.00 WIB setiap harinya.
Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan responsivitas pemerintah daerah dalam mendeteksi dan mengatasi gejolak harga yang mungkin terjadi. Dengan adanya pemantauan rutin, Disperindag dapat mengambil langkah antisipasi yang diperlukan seandainya terjadi lonjakan harga atau gangguan pasokan bahan pokok. Sekretaris Disperindag, Murlina, menekankan pentingnya konsistensi dalam pembaruan data demi mendapatkan informasi yang akurat mengenai kondisi pasar.
Menurut Murlina, laporan yang diterima setiap harinya memudahkan pemerintah dalam mengidentifikasi perubahan harga sejak dini. Kemampuan untuk merespons secara cepat menjadi sangat penting guna menjaga kesejahteraan masyarakat. "Data yang kami kumpulkan memungkinkan kami untuk memantau perkembangan harga secara real-time dan segera bertindak jika terdeteksi adanya kenaikan harga yang signifikan," jelasnya.
Saat ini, hasil pemantauan menunjukkan bahwa harga bahan pokok di Kabupaten Blitar masih dalam kondisi relatif stabil. Meskipun beberapa komoditas mengalami fluktuasi harga, perubahan tersebut masih berada dalam batas yang normal. Dengan langkah-langkah yang diambil, diharapkan kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi tanpa terpengaruh oleh kenaikan harga yang tidak terkendali.