- Jumlah penderita hipertensi di Kota Blitar mencapai 1.937 orang, dengan diabetes melitus juga dalam angka yang signifikan.
- Penyakit tidak menular ini mulai mengincar masyarakat usia produktif, bukan hanya lanjut usia.
- Penderita PTM lebih banyak didominasi oleh perempuan, menunjukkan perlunya pendekatan kesehatan yang lebih spesifik.
Kota Blitar menghadapi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat terkait dengan peningkatan penyakit tidak menular (PTM), khususnya hipertensi dan diabetes. Menurut data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar yang disampaikan oleh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, drg Silvia Dewi Kusumawati, penyakit hipertensi kini telah teridentifikasi pada 1.937 warga. Sementara itu, dari angka yang sama, penyakit diabetes melitus menunjukkan prevalensi yang signifikan, dengan 152 kasus diabetes tipe 1 dan 760 kasus diabetes tipe 2. Temuan ini diperoleh melalui pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai fasilitas kesehatan di kota.
Perbandingan data dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya lonjakan kasus yang dapat mengindikasikan tren negatif dalam kesehatan warga Blitar. Pada tahun 2025, jumlah penderita hipertensi tercatat mencapai 2.338 orang dan penderita diabetes tipe 1 serta tipe 2 sebanyak 203 orang dan 902 orang, masing-masing. Khususnya membahayakan, temuan ini tidak hanya terbatas pada kelompok lanjut usia, tetapi sudah menjalar ke kalangan usia produktif, khususnya individu berusia antara 21 hingga 40 tahun.
Penting sekali bagi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, mengingat bahwa penyakit tidak menular ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Kesadaran untuk melakukan cek kesehatan secara berkala sangat diperlukan untuk mendeteksi dini kondisi yang mungkin memburuk.
Dari data yang ada, Dinkes Kota Blitar juga mencatat adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana prevalensi PTM lebih banyak ditemukan pada perempuan. Rincian data menunjukkan bahwa sekitar 50 persen lebih banyak penderita perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini menjadi catatan tersendiri yang perlu menjadi perhatian bersama baik dari pemerintah maupun masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengelolaan kesehatan di Kota Blitar.