- Sungai Lekso merupakan sumber penting bagi pertanian dan menyimpan berbagai kisah sejarah lokal.
- Kisah Prabu Airlangga dan pembagian wilayah kerajaan mengaitkan Sungai Lekso dengan sejarah kekuasaan di Jawa Timur.
- Keterkaitan Sungai Lekso dengan perjuangan Pangeran Diponegoro menambah dimensi historis dan sosial bagi masyarakat Blitar.
Sungai Lekso di Kabupaten Blitar, dikenal juga sebagai Kali Lekso, bukan hanya sekadar sumber kehidupan bagi pertanian masyarakat setempat, tetapi juga penyimpan kisah-kisah berharga yang menjadi bagian dari warisan budaya dan sejarah lokal. Mengalir melalui Kecamatan Gandusari dan Wlingi, sungai ini mengambil sumber dari daerah lereng Gunung Kawi dan Gunung Kelud, memberikan aliran yang tidak hanya bermanfaat, namun juga kaya akan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Legenda yang mengaitkan Sungai Lekso dengan sejarah Kerajaan Kahuripan dan Prabu Airlangga memperlihatkan betapa pentingnya sungai ini dalam konteks sosial dan politik pada masa lampau. Pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, ketika terjadi perebutan takhta di antara keturunan kerajaan, solusinya adalah pembagian wilayah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Janggala. Konon, pembagian ini dilakukan oleh Empu Barada, yang diyakini telah menumpahkan air dari kendi sakti yang kemudian membentuk aliran sungai sebagai batas kedua kerajaan, sehingga menambahkan dimensi historis bagi Sungai Lekso.
Lebih jauh, sejumlah ahli sejarah mengaremikan bahwa sungai yang disebut dalam legenda tersebut kemungkinan adalah Sungai Lekso, berdasarkan analisis etimologi dan peta-peta kuno yang mengungkapkan batas wilayah kerajaan di kawasan Blitar dan Malang. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan Sungai Lekso mewakili suatu periode penting dalam sejarah perjalanan masyarakat Blitar. Disisi lain, cerita-cerita yang terkait dengan pelarian pasukan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap penjajahan juga berkontribusi pada kekayaan narasi yang melingkupi sungai ini, menjadikannya sebagai simbol dari perjuangan dan keuletan masyarakat lokal.
Dengan segala kisah dan makna yang terkandung, Sungai Lekso menjadi lebih dari sekadar aliran air; ia adalah jendela menuju pemahaman lebih dalam mengenai identitas masyarakat Blitar. Dalam setiap aliran airnya, tersimpan harapan dan perjuangan yang tiada henti, sebuah legasi yang patut untuk diwariskan dan dilestarikan.