Jumat, 11 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Mengungkap Makna Sejarah Lambang NU: Dari Salat Istikharah Hingga Mimpi Besar

Mengungkap Makna Sejarah Lambang NU: Dari Salat Istikharah Hingga Mimpi Besar

Mengungkap Makna Sejarah Lambang NU: Dari Salat Istikharah Hingga Mimpi Besar
Poin Penting:
  • Lambang NU dirancang oleh KH Ridwan Abdullah atas arahan KH Hasyim Asy'ari.
  • Proses pembuatan lambang melalui salat istikharah untuk memohon petunjuk dari Allah.
  • Desain lambang terinspirasi dari mimpi KH Ridwan Abdullah yang menggambarkan persatuan umat.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan yang berdiri pada tahun 1926, dan di balik keberadaannya tersimpan kisah menarik tentang lambang yang kini menjadi simbol identitas organisasi. Proses pembuatan lambang ini dipercayakan kepada KH Ridwan Abdullah, seorang ulama yang tidak hanya dikenal karena ilmu agamanya, tetapi juga kemampuan seni lukisnya. Penghargaan ini diberikan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yang menginginkan lambang tersebut berbeda dan menggambarkan wibawa serta daya tarik yang dapat bertahan dalam waktu lama.

Dalam merancang lambang tersebut, KH Hasyim Asy’ari memberikan beberapa arahan yang krusial. Beliau menekankan pentingnya agar lambang NU tidak meniru simbol dari organisasi lain, serta menciptakan kesan yang kuat dan tidak membosankan. KH Ridwan Abdullah pun mengambil pendekatan yang tidak biasa, melalui sebuah ritual spiritual yang melibatkan salat istikharah. Dalam salat ini, beliau memohon petunjuk dari Allah untuk dapat menciptakan lambang yang paling sesuai dengan visi NU.

Setelah melaksanakan salat istikharah, KH Ridwan Abdullah bermimpi akan sebuah langit biru yang memukau, di mana bola dunia dikelilingi bintang-bintang berkilau dan pengait yang menghubungkannya. Mimpi tersebut diinterpretasikannya sebagai simbol persatuan dan kerjasama umat, yang selanjutnya dituangkannya ke dalam sketsa di kanvas. Dengan penuh ketelitian, desain yang terinspirasi dari mimpi tersebut akhirnya disetujui oleh KH Hasyim Asy’ari, dan resmilah lambang yang kini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.

Cerita di balik lambang Nahdlatul Ulama ini bukan hanya sekadar sejarah, tapi juga mengingatkan kita tentang pentingnya spiritualitas dan tradisi yang kental dalam setiap langkah yang diambil dalam perjalanan organisasi. Di Blitar, sebagai bagian dari masyarakat Nahdliyin, kita diingatkan untuk terus menghargai nilai-nilai spiritual ini dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh para pendiri NU.