- Jamasan Kiai Bonto adalah tradisi tahunan yang dihormati masyarakat Desa Kebonsari.
- Proses pemandian pusaka dilakukan setelah pembacaan legenda yang menegaskan nilai tradisi.
- Warga percaya air bekas jamasan membawa berkah dan manfaat spiritual.
Dengan semangat yang berkobar, ratusan warga Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar berkumpul di perbukitan Dusun Pakel untuk mengikuti prosesi tahunan Jamasan Kiai Bonto. Tradisi unik yang telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka ini bukan hanya sekadar acara ritual, melainkan merupakan warisan budaya yang sangat dihargai oleh masyarakat lokal. Kegiatan ini menarik perhatian banyak orang meskipun akses menuju lokasi berlangsung di kawasan perbukitan yang terjal.
Pagi hari tersebut, sekitar pukul 10.00, suasana mulai ramai seiring kedatangan warga yang telah menanti untuk menyaksikan prosesi Jamasan. Pusaka yang berbentuk wayang tersebut dibawa dengan penuh respect oleh juru kunci dan rombongan menuju lokasi jamasan. Upacara ini diawali dengan pembacaan legenda yang menyangkut makna dan asal-usul Kiai Bonto, menjadikan suasana semakin sakral dan penuh makna.
Setelah dibawa ke tempat yang lebih tinggi, prosesi jamasan dimulai dengan pemandian pusaka menggunakan air yang dicampur dengan bunga. Pertunjukan ini menyimpan harapan yang dalam bagi warga, yang percaya bahwa air bekas jamasan dapat membawa berkah. Banyak warga yang tetap sabar berdiri menantikan prosesi demi prosesi, dengan keyakinan bahwa mereka dapat merasakan manfaat spiritual dari tradisi tersebut.
Sagita, salah satu warga yang antusias mengikuti jalannya acara, menyatakan bahwa tradisi Jamasan Kiai Bonto memiliki makna penting bagi komunitas. βWarga memang sudah menunggu dari pagi. Banyak yang ingin melihat langsung dan ada juga yang menunggu air jamasan,β ujarnya. Hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan masyarakat terhadap warisan kearifan lokal, yang telah menjadi bagian dari identitas budaya mereka di Blitar.