Selasa, 30 Juni 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pemerintahan Masa-masa Akhir Soekarno: Kenangan Pilu Sang Proklamator di Blitar

Masa-masa Akhir Soekarno: Kenangan Pilu Sang Proklamator di Blitar

Masa-masa Akhir Soekarno: Kenangan Pilu Sang Proklamator di Blitar
Poin Penting:
  • Soekarno kehilangan kekuasaan setelah surat Supersemar diterbitkan.
  • Spekulasi publik terhadap sikap tenang Soekarno pasca-G30S berujung pada penurunan posisinya.
  • Pengusiran dan penahanan Soekarno menjadi simbol perjalanan kelam seorang proklamator.

Perjalanan hidup Sang Proklamator, Soekarno, adalah sebuah narasi penuh warna yang tak hanya berbicara tentang kemerdekaan, namun juga menghadirkan sisi kelam dalam babak akhir kehidupannya. Bagi warga Blitar, yang dikenal dengan semangat perjuangannya, kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang jatuh bangunnya sebuah kepemimpinan. Diawali dengan terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar, Soekarno menyaksikan perlahan-lahan beralihnya kekuasaan tersebut kepada Soeharto, yang akhirnya membuatnya kehilangan bukan hanya jabatan, tetapi juga kebebasan fundamentalnya.

Pascaperistiwa Gerakan 30 September, situasi politik di Indonesia semakin memanas. Dalam sidang Kabinet Dwikora yang berlangsung di Istana Bogor, sikap tenang Soekarno menimbulkan banyak spekulasi di kalangan publik, termasuk surat kekhawatiran dari istrinya, Ratna Sari Dewi. Ia berupaya menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih dalam keadaan stabil, tetapi langkah itu tidak menghentikan dugaan bahwa dirinya terlibat dalam pengenalan awal peristiwa G30S.

Ketika Supersemar diterbitkan pada 11 Maret 1966, bidak politik Soekarno mulai dipindahkan. Soeharto mengambil langkah-langkah drastis, termasuk membubarkan PKI dan menangkap menteri-menteri yang dipandang dekat dengan proklamator kita. Berbagai usaha Soekarno untuk mempertahankan kekuasaan melalui pidato-pidato resmi pun sia-sia, ditolak oleh MPRS. Hari bersejarah 12 Maret 1967 menandai akhir dari era kepemimpinan Soekarno, ketika mandatnya dicabut dan posisinya diambil alih sepenuhnya oleh Soeharto.

Setelah tercabutnya jabatan, Soekarno dan keluarganya dihadapkan pada pengusiran dari Istana Merdeka. Dengan pakian yang sederhana dan barang-barang pribadi yang terbatas, Bung Karno meninggalkan istana yang pernah ia huni sebagai presiden. Statusnya pun berubah menjadi tahanan politik, di mana ia dibatasi aksesnya dari dunia luar. Selama ditahan, Soekarno hanya dapat dijenguk oleh anggota keluarganya dengan ijin khusus, merefleksikan tragedi yang dialaminya sebagai tokoh nasional yang pernah berjaya di mata bangsa. Kisah ini menjadi pengingat bagi masyarakat Blitar dari perjalanan seorang pemimpin yang tak lepas dari liku-liku sejarah.