- Kompor gas LPG terbukti lebih hemat biaya pada kategori subsidi.
- Efisiensi biaya kompor listrik dan gas hampir setara pada kategori non-subsidi.
- Fleksibilitas penggunaan menjadi faktor kunci dalam memilih jenis kompor.
BLITAR - Proses konversi penggunaan sumber energi di dapur, dari kompor gas ke kompor listrik, tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan warga Blitar. Diskusi mengenai mana yang lebih baik antara kompor listrik dan kompor gas terutama berfokus pada efisiensi biaya dan kepraktisan penggunaan sehari-hari. Dalam upaya memberikan penjelasan yang komprehensif, dilakukan pengujian mendalam untuk mengukur konsumsi energi dari kedua jenis kompor ini.
Pengujian tersebut menghitung berapa banyak energi yang diperlukan untuk memanaskan 1,5 liter air dari suhu 30 derajat Celsius hingga mencapai titik didih 100 derajat Celsius. Dalam eksperimen ini, kompor induksi membutuhkan daya listrik rata-rata sekitar 800 hingga 900 Watt. Sementara itu, untuk kompor gas LPG, kalkulasi dilakukan secara presisi dengan timbangan digital untuk mengukur konsumsi gas, memberikan gambaran nyata tentang efisiensi dari masing-masing teknologi.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada kategori subsidisasi, kompor gas LPG 3 kg lebih ekonomis. Biaya yang dikeluarkan untuk mendidihkan 1,5 liter air hanya sekitar Rp60 atau setara dengan 10 gram gas. Sebaliknya, kompor induksi, meskipun pada tarif listrik subsidi 900 VA, memerlukan biaya sekitar Rp100. Temuan ini menjawab keraguan masyarakat mengenai pilihan terbaik dalam konteks pengeluaran harian keluarga.
Menariknya, saat pengujian dialihkan ke kategori non-subsidi, hasilnya menunjukkan efisiensi biaya yang hampir seimbang. Di mana biaya pemakaian kompor induksi meningkat menjadi sekitar Rp228 pada tarif listrik non-subsidi 1.300 VA, sedangkan kompor gas non-subsidi 12 kg memerlukan biaya sekitar Rp225. Selisih biaya yang minimal ini menandakan bahwa secara teknis, efisiensi kedua perangkat ini bisa dianggap setara, namun faktor penentu yang lain seperti fleksibilitas penggunaan dan gaya hidup merupakan aspek yang harus dipertimbangkan oleh para pengguna.
Secara teknis, prinsip kerja antara kedua kompor tersebut berbeda. Kompor induksi memanfaatkan medan elektromagnetik untuk memanaskan alat masak berbahan besi atau stainless steel, sedangkan kompor gas memberikan kebebasan lebih dalam jenis peralatan masak yang dapat digunakan, termasuk wajan besar. Namun, kompor induksi lebih unggul dalam hal estetika dan kemudahan perawatan, dengan desain permukaan kaca yang mudah dibersihkan. Pada akhirnya, pilihan antara kompor listrik dan kompor gas sangat tergantung pada kebutuhan dan preferensi masing-masing konsumen di Blitar.