- Anak binaan LPKA Blitar, A, fokus pada keterampilan barber dan barista sebagai bekal masa depan.
- Selama menjalani hukuman, A menunjukkan semangat belajar dan ketekunan yang tinggi.
- Keterampilan yang diperoleh di LPKA Blitar menghidupkan harapan untuk membuka usaha mandiri.
Kisah inspiratif para anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Blitar menunjukkan bahwa pembinaan di balik jeruji tidak selalu diwarnai dengan kepasrahan. Melalui berbagai program pelatihan keterampilan, salah satu anak binaan berinisial A berhasil memperdalam kemampuannya sebagai seorang barber dan barista. Keterampilan ini bukan hanya menjadi bekal, tetapi juga menghidupkan harapan untuk memulai bisnis setelah bebas dari masa hukuman yang dijalani.
A, remaja 16 tahun asal Madura, telah menjalani masa pembinaan selama satu tahun sembilan bulan dari total enam tahun hukuman yang dijalani. Meski jauh dari kampung halaman, A memutuskan untuk fokus memanfaatkan waktunya dengan belajar dan berbenah diri. Melalui program pelatihan yang difasilitasi oleh LPKA Blitar, ia tidak hanya belajar cara memangkas rambut, tetapi juga meracik kopi dengan keahlian barista. Kebangkitan semangatnya yang terpendam bertujuan untuk membuka usaha mandiri dan memberikan kesempatan untuk meminta maaf kepada ibu saat kembali berkumpul dengan keluarga.
Pada peringatan Hari Anak yang lalu, terdengar suara mesin cukur dari salah satu sudut ruang pameran karya, di mana A dengan percaya diri memangkas rambut rekannya. Meskipun baru mengenal dunia barber selama kurang dari dua tahun, ia menunjukkan kemajuan yang mengesankan. Awalnya, A tidak memiliki pengalaman dalam mencukur rambut, karena hobi utama yang dilakukannya ialah bermain voli. Ketertarikan terhadap dunia barber muncul setelah mengikuti pelatihan keterampilan di LPKA.
Setelah menyelesaikan program pembinaan setiap pagi dan siang, A secara rutin menghadiri pelatihan barber satu sampai dua kali dalam seminggu. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesulitan memegang gunting dan menentukan teknik potongan yang tepat, A tidak menyerah. Dengan ketekunan dan pengawasan dari instruktur, kemampuan memangkas rambutnya mengalami peningkatan yang signifikan. Bagian paling menantang baginya adalah merapikan rambut bagian atas dengan gunting manual, yang memerlukan ketelitian tinggi untuk menjaga hasilnya tetap rapi. Kini, A mulai mendapatkan kepercayaan dari teman-teman sesama binaan untuk memangkas rambut mereka, dan setiap kesempatan itu dimanfaatkannya untuk berlatih dan bereksperimen dengan berbagai model potongan baru.