- Gebyar Suro diadakan di Istana Gebang sebagai upaya melestarikan budaya Jawa.
- Kegiatan ini menggabungkan reuni dengan pelestarian tradisi melalui prosesi adat.
- Tujuan utama adalah menanamkan nilai budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus modernisasi.
Pada hari Minggu, 12 Juli, kawasan Istana Gebang menjadi saksi kembali diadakannya Gebyar Suro oleh Paguyuban Ngudi Luhur Pang Blitar. Kegiatan tahunan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang reuni akbar bagi para anggotanya, melainkan juga sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama penggiat budaya. Dalam suasana yang khidmat, masyarakat Blitar berkumpul untuk bersama-sama melestarikan budaya Jawa yang kaya akan nilai-nilai luhur.
Kehadiran para pegiat budaya dari berbagai daerah turut menambah semarak Gebyar Suro, di mana setiap peserta mengikuti rangkaian prosesi adat yang mengedepankan penghormatan kepada leluhur. Upacara ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi tidak hanya diingat, tetapi juga dijalankan dalam konteks yang relevan dengan perkembangan zaman.
Salah satu inti dari acara ini adalah Wilujengan Suro, yang diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan bagi masyarakat. Tak lama kemudian, peserta terlibat dalam prosesi Memule Leluhur, sebuah bentuk penghormatan kepada pendahulu yang telah mewariskan nilai kehidupan yang berharga bagi generasi selanjutnya. Selain itu, prosesi Memule Mata Air menjadi simbol harapan agar sumber air di kawasan tersebut senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
Sebagai penutup yang penuh makna, ritual Jamasan Pusaka dilaksanakan untuk menyucikan benda-benda pusaka yang menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan budaya Blitar. Gebyar Suro bukan hanya sekedar acara rutin, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami dan menginternalisasi khazanah budaya yang ada, sehingga warisan leluhur tetap terjaga di tengah arus modernisasi.