Jumat, 11 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pemerintahan BRIN Teliti Pemanfaatan Singkong untuk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan

BRIN Teliti Pemanfaatan Singkong untuk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan

BRIN Teliti Pemanfaatan Singkong untuk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan
Poin Penting:
  • BRIN sedang meneliti pemanfaatan singkong untuk penanganan kebakaran hutan.
  • Koordinasi dengan Polri dan BMKG untuk teknologi modifikasi cuaca.
  • Presiden Prabowo mendukung pengembangan inovasi berbasis singkong yang disebut 'ubi bombing'.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengungkapkan bahwa lembaganya sedang melakukan penelitian mendalam mengenai pemanfaatan singkong sebagai solusi inovatif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam kajiannya, Arif menjelaskan bahwa secara teoritis, singkong dapat digunakan sebagai salah satu alternatif efektif untuk menghadapi masalah kebakaran yang kerap melanda berbagai wilayah, termasuk di sekitar Blitar.

Sejalan dengan upaya ini, BRIN juga aktif berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memberikan dukungan teknologi dalam penanganan karhutla. Teknologi modifikasi cuaca menjadi salah satu fokus utama dalam kerjasama ini, di mana BRIN telah menemukan sejumlah material baru yang lebih efisien, seperti Jumakron serta Natrium Klorida (NaCl) berukuran 25 mikron, yang dapat digunakan dalam operasi modifikasi cuaca tersebut.

Dalam sebuah rapat penanganan karhutla yang digelar di Palembang pada 24 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pengembangan metode “ubi bombing” sebagai cara alternatif yang menjanjikan untuk mempercepat proses pemadaman api secara lebih efektif. Ia mendorong agar inovasi yang berbahan baku ubi atau singkong ini dapat segera diujicobakan dalam skala yang lebih luas, serta meminta agar kebutuhan anggaran untuk riset dan produksi segera diajukan agar pemerintah dapat mendukung langkah tersebut.

Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan penelitian ini dapat membawa perubahan positif dalam strategi penanganan karhutla di Indonesia, termasuk di daerah yang rentan seperti Blitar. Arif Satria optimis bahwa hasil kajian dan persiapan teknologi ini dapat segera terwujud dalam waktu dekat, membawa harapan baru bagi masyarakat dan lingkungan.