Rabu, 07 Oktober 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda › Ekonomi › Antisipasi Musim Tanam Padi Mundur: Petani Blitar Perlu Waspadai Dampak Kemarau Ekstrem 2026

Antisipasi Musim Tanam Padi Mundur: Petani Blitar Perlu Waspadai Dampak Kemarau Ekstrem 2026

Antisipasi Musim Tanam Padi Mundur: Petani Blitar Perlu Waspadai Dampak Kemarau Ekstrem 2026
Poin Penting:
  • Musim tanam padi di Blitar mundur sekitar satu bulan akibat kemarau 2026.
  • Pemerintah daerah telah ambil langkah mitigasi untuk menjaga produksi.
  • Infrastruktur pengairan diperbaiki untuk mengatasi kekurangan air.

Musim tanam padi di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Blitar, mengalami perubahan jadwal yang signifikan akibat kemarau panjang yang diprediksi berlangsung pada tahun 2026. Menurut informasi yang disampaikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, musim tanam padi diperkirakan akan mundur rata-rata sekitar satu bulan, khususnya pada lahan pertanian yang bergantung pada air hujan.

Fenomena alam ini tak lepas dari dampak El Nino yang mempengaruhi hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Blitar. Meskipun adanya penundaan dalam waktu tanam, para petani tidak perlu khawatir akan anjloknya produksi pangan. Pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah mitigasi guna memastikan ketersediaan air dan menjaga hasil pertanian agar tetap optimal.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, mengungkapkan bahwa antisipasi terhadap ancaman kemarau panjang sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Upaya ini termasuk dalam menanggapi prediksi BMKG tentang El Nino yang berlangsung cukup lama. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah mempercepat pembangunan infrastruktur pengairan yang dimulai sejak tahun 2025.

Pemerintah telah berinovasi dalam penyediaan pompa, yang akan digunakan tidak hanya untuk mengambil air permukaan, namun juga untuk mendukung irigasi perpompaan. Dengan ini, pasokan air dari sumber yang lebih dalam dapat dioptimalkan, sehingga diharapkan petani di Blitar tetap mampu menghasilkan padi yang berkualitas meskipun menghadapi tantangan dari faktor cuaca yang ekstrem.