Senin, 28 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda › Ekonomi › Tantangan Produsen Roti Garum Blitar di Tengah Kenaikan Biaya Bahan Baku

Tantangan Produsen Roti Garum Blitar di Tengah Kenaikan Biaya Bahan Baku

Tantangan Produsen Roti Garum Blitar di Tengah Kenaikan Biaya Bahan Baku
Poin Penting:
  • Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan serius bagi UMKM di Blitar.
  • Ikhwan Efendi memproduksi sekitar 2.000 bungkus roti setiap hari dengan sistem konsinyasi.
  • Program Dapur Makan Bergizi Gratis yang sebelumnya mendukung pemasaran kini sudah dihentikan.

Kenaikan harga bahan baku yang terus berlangsung menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Blitar, termasuk para produsen roti di wilayah Garum. Para pelaku usaha ini tidak hanya harus bersaing dengan produk dari luar, tetapi juga harus mengelola kenaikan biaya produksi yang signifikan, terutama pada komponen kemasan yang kini mencapai dua kali lipat dari sebelumnya.

Salah satu produsen roti yang terdampak adalah Ikhwan Efendi, pengelola usaha roti di Bumi Penataran. Ia mengungkapkan, setiap hari usaha yang diberdayakannya mampu memproduksi sekitar 2.000 bungkus roti. Namun, kondisi tersebut kini dihadapkan pada tantangan berat akibat meningkatnya harga plastik kemasan, yang merupakan salah satu bahan penting dalam menjaga kualitas dan keamanan produk roti.

Roti hasil produksi Ikhwan dipasarkan melalui sistem konsinyasi, di mana produk ini dititipkan di beberapa warung kelontong lokal. Dengan cara ini, ia berharap dapat menjangkau lebih banyak konsumen dan tetap mempertahankan pendapatan di tengah tantangan ekonomi yang ada. Bahkan, sebelum keadaan ini, produk rotinya pernah mendapatkan dukungan melalui program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana roti tersebut menjadi salah satu menu pilihan pada akhir pekan. Sayangnya, program tersebut kini harus dihentikan karena tidak lagi ada menu kering yang disediakan.

Dalam menghadapi perubahan ini, Ikhwan menyatakan bahwa dia akan terus berupaya untuk berinovasi dalam produk dan strategi pemasarannya, dengan harapan bisa tetap bertahan dan berkontribusi dalam perekonomian lokal di Kabupaten Blitar. Kondisi ini menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi oleh UMKM di era ketidakpastian ekonomi, dan memerlukan dukungan lebih dari berbagai pihak agar usaha lokal bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.