- Raditya Dika mengalami kesulitan dalam mengembangkan bisnis yang terlalu bergantung padanya.
- Sandiaga Uno menekankan pentingnya membangun sistem bisnis yang mandiri untuk pertumbuhan.
- Contoh KFC dan Disney menunjukkan potensi scale up melalui model bisnis dan kreativitas yang tepat.
BLITAR - Dalam sebuah diskusi yang menarik antara komedian dan entrepreneur, Raditya Dika dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, topik mengenai strategi scale up bisnis menjadi sorotan utama. Raditya Dika berbagi pengalaman pribadinya sebagai pemilik perusahaan media yang mengandalkan dirinya secara penuh, di mana ia merasa kesulitan untuk memperluas bisnis tanpa keterlibatan langsung dirinya. Dalam pandangannya, ketergantungan ini menghambat potensi pertumbuhan bisnisnya.
Sandiaga Uno merespons tantangan tersebut, menekankan bahwa masalah yang dihadapi Raditya adalah hal yang umum dihadapi oleh pelaku usaha yang sedang berusaha bertransformasi dari fase startup menuju scale up. Ia menyoroti pentingnya membangun sistem yang memungkinkan bisnis beroperasi secara mandiri, tanpa bergantung pada kehadiran pendirinya. Dengan cara ini, perusahaan dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai bisnis dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Sebagai contoh nyata, Sandiaga menjelaskan kesuksesan Kentucky Fried Chicken (KFC) yang berhasil berkembang menjadi jaringan global melalui model franchise, yang mengizinkan produk mereka direplikasi tanpa keterlibatan langsung pendirinya. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, ada peluang besar bagi pelaku usaha, termasuk di Blitar, untuk memperluas distribusi produk atau layanan dengan biaya yang lebih efisien dan optimal. Sandiaga juga mengangkat kisah sukses Disney yang mampu menciptakan bisnis berbasis kekayaan intelektual dengan karakter ikonik seperti Mickey Mouse, yang menghadirkan berbagai pendapatan dari film dan produk lisensi.
Di akhir diskusi, Raditya Dika menyimpulkan bahwa ia harus mulai menciptakan produk yang dapat memberikan kontribusi pada bisnisnya meskipun dirinya tidak selalu hadir, seperti dengan menghasilkan film, katalog konten, atau merchandise. Pernyataan tersebut menandakan suatu kesadaran penting untuk bersiap pada transisi kepemimpinan dan suksesi dalam bisnis agar tetap berjalan lancar ketika pendiri tidak lagi aktif memimpin.