- Slow travel menjadi tren di kalangan anak muda yang mencari pengalaman liburan yang lebih santai.
- Yogyakarta tetap menjadi tujuan favorit untuk menikmati suasana dan budaya lokal.
- Konsep solo traveling mendukung gaya slow travel, memberikan kebebasan untuk meresapi setiap momen.
Fenomena slow travel kini meraih popularitas di kalangan anak muda, terutama mereka yang mendambakan liburan dengan pendekatan yang lebih santai. Berbeda dengan paham wisata yang menganut prinsip 'buru-buru' mengeksplorasi banyak destinasi, slow travel mengajak pelancong untuk meresapi setiap momen serta kultur lokal dari satu tempat yang dikunjungi. Salah satu destinasi yang tetap menjadi favorit bagi para pelaku slow travel adalah Yogyakarta, yang diakui memiliki suasana yang menyenangkan, kuliner yang beragam, hingga pesona alam yang membuat wisatawan enggan meninggalkan kota ini.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Hikam Yonis, seorang pemuda asal Blitar yang aktif dalam solo traveling ke Yogyakarta. Bagi Hikam, perjalanan bukan lagi hanya sekadar mengunjungi tempat-tempat wisata, melainkan lebih pada bagaimana menikmati dan menghargai setiap detik yang dihabiskan di destinasi tersebut. Dengan kunjungan yang biasanya berlangsung selama beberapa hari, ia memanfaatkan waktu untuk menjalani berbagai aktivitas sederhana namun berarti, seperti menikmati secangkir kopi, menjelajahi kelezatan kuliner lokal, berjalan-jalan santai di kawasan Malioboro, dan merasakan keindahan pantai-pantai di Kabupaten Gunungkidul.
Hikam menyebut beberapa pantai yang menjadi pilihannya, seperti Pantai Drini dan Pantai Kukup, di mana prioritas utama tidaklah untuk sekadar mengabadikan momen demi media sosial, melainkan untuk benar-benar merasakan kenikmatan dari suasana pantai yang tenang dan damai. Dalam pengalamannya, ia mengatakan, "Saat berada di Yogyakarta, saya selalu berusaha untuk tidak terburu-buru. Saya biasanya menghabiskan beberapa hari di sana, sekadar ngopi dan menikmati kuliner, sambil menyempatkan diri mengunjungi pantai-pantai di Gunungkidul. Menikmati suasana lebih penting bagi saya daripada harus mengejar foto-foto."
Selanjutnya, Hikam juga memaparkan bahwa konsep solo traveling bikin gaya slow travel semakin nyaman. Dengan bepergian sendiri, ia memiliki kebebasan penuh untuk menentukan tujuan serta durasi kunjungan tanpa harus menyesuaikan rencana orang lain. Ini menjadikan setiap perjalanan lebih berkesan dan memuaskan, selaras dengan tujuan utama dari slow travel itu sendiri, yaitu menikmati perjalanan dengan sepenuh hati.