- Beberapa siswa dari Sekolah Rakyat Kota Blitar mengundurkan diri, terutama di tingkat SD.
- Proses adaptasi siswa dilakukan dengan pendampingan dan dukungan agar mereka tidak dipaksa tinggal di asrama.
- Sekolah memberikan kesempatan untuk pulang sementara dan layanan konseling bagi siswa dan orang tua.
Kepala Sekolah Rakyat Kota Blitar, Johan Argono, mengonfirmasi bahwa beberapa siswa telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan di asrama sekolah. Langkah ini diambil oleh mayoritas siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) yang masih dalam tahapan perkembangan. Johan menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin memaksakan siswa untuk tinggal di asrama apabila mereka belum siap dengan pola pengasuhan dan kehidupan bersosialisasi di lingkungan sekolah. "Ada beberapa yang sudah mengundurkan diri, mayoritas siswa jenjang SD. Karena mereka masih kecil, kami tidak memaksa untuk tinggal di sini," ujarnya saat diwawancarai di kompleks Sekolah Rakyat.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Johan menjelaskan bahwa proses penanganan siswa yang mengalami kesulitan beradaptasi dilakukan secara bertahap. Pihak sekolah mengikuti arahan dari Kementerian Sosial (Kemensos), yang melibatkan wali asrama serta wali asuh untuk mendampingi siswa selama proses penyesuaian. Jika masalah tersebut belum teratasi, layanan konseling akan diberikan dengan intensif kepada siswa dan orang tua. Sekolah juga memberikan fleksibilitas kepada anak untuk pulang sementara ke rumah sebelum mengambil keputusan apakah akan kembali ke sistem pembelajaran asrama.
Johan menekankan pentingnya pendekatan berbasis kesiapan anak. Kehidupan di asrama memiliki dinamika yang berbeda jika dibandingkan dengan sekolah reguler, di mana siswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan menjalani aktivitas harian di dalam sekolah. "Kementerian menegaskan bahwa anak tidak boleh dipaksa. Setiap anak di sini mendapat perlakuan khusus, jika tidak merasa nyaman, mereka tidak harus dipaksa untuk tetap tinggal," imbuhnya.
Dalam hal jumlah siswa yang mengundurkan diri, Johan mencatat bahwa angkanya masih di bawah 10 anak. Namun, jumlah tersebut dapat berubah seiring dengan kedatangan siswa baru. Pihak sekolah berkomitmen untuk memperbarui data peserta didik dengan akurat. Ada beberapa siswa yang sudah mengundurkan diri sebelum resmi terdaftar melalui surat keputusan (SK) wali kota serta yang belum mengikuti kegiatan di asrama sejak awal.