- Desil DTSEN membagi masyarakat ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan kondisi sosial ekonomi, bukan hanya berdasarkan penghasilan.
- Penentuan desil menggunakan berbagai indikator sosial ekonomi, termasuk pendidikan dan kesehatan, tidak hanya nominal uang yang diterima.
- Pemeringkatan desil dilakukan pada tingkat keluarga, bukan individu, sehingga penghasilan satu anggota tidak menentukan posisi seluruh keluarga.
JAKARTA - Hasil pemeringkatan Desil DTSEN akhir-akhir ini menarik perhatian masyarakat, terutama di Blitar. Banyak warga mengungkapkan kebingungan mereka ketika melihat hasil yang menunjukkan beberapa di antaranya terdaftar pada desil 9 atau 10, meskipun kondisi kehidupannya masih sederhana, seperti tinggal di rumah kontrakan dan berpenghasilan hanya beberapa juta per bulan. Pertanyaan ini menimbulkan polemik mengenai akurasi data dalam penentuan kondisi sosial ekonomi keluarga.
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan penjelasan yang terang mengenai hal ini, menekankan bahwa penghasilan bukan satu-satunya faktor penentu desil. Desil, yang membagi masyarakat ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan kondisi sosial ekonomi, lebih komprehensif. Desil 1 menggambarkan kelompok dengan kondisi terendah, sedangkan desil 10 mencerminkan kondisi tertinggi. BPS memberikan rincian bahwa penentuan posisi desil melibatkan berbagai indikator, termasuk tempat tinggal, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, serta kesehatan.
Artinya, meski seseorang memiliki penghasilan bulanan yang terbatas, mereka dapat masuk ke dalam kelompok desil yang lebih tinggi jika indikator lainnya menunjukkan kondisi yang lebih baik. Hal ini menjelaskan mengapa ada individu dengan penghasilan rendah berada di desil yang lebih tinggi. Pemeringkatan ini tidak dilakukan secara individual, melainkan berdasarkan kondisi keseluruhan keluarga.
Bagi masyarakat Blitar, informasi ini menjadi penting untuk memahami struktur sosial dan ekonomi di daerah mereka. Masyarakat diharapkan dapat menyadari bahwa pemeringkatan desil berfungsi sebagai gambar yang lebih lengkap mengenai situasi sosial, bukan sekadar angka nominal yang terlihat terbatas. Pemahaman yang lebih baik tentang desil DTSEN dapat membantu masyarakat menyikapi data publik dengan lebih bijak dan kritis.