- Perbedaan gaya komunikasi Gen Z sering disalahartikan sebagai kurangnya sopan santun.
- Media sosial telah membentuk cara berkomunikasi yang cepat dan langsung.
- Kemampuan beradaptasi tetap penting bagi Gen Z, terutama di lingkungan profesional.
JAKARTA – Fenomena gaya komunikasi Generasi Z sering menjadi topik perdebatan di kalangan masyarakat, dengan sebagian kalangan menganggap bahwa cara penyampaian mereka mencerminkan kurangnya sopan santun atau attitude. Namun, pandangan tersebut perlu dievaluasi lebih dalam, karena perbedaan tersebut tidak selalu berkaitan dengan etika, melainkan merupakan hasil dari perubahan pola komunikasi yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media sosial yang pesat.
Viona Lestari, seorang perwakilan dari Generasi Z, menekankan bahwa anak muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran media sosial dan platform komunikasi digital lainnya membuat mereka terbiasa mengungkapkan pendapat secara langsung dan efisien, tanpa banyak basa-basi. Hal ini, menurut Viona, sering kali disalahartikan sebagai ketidakpatuhan terhadap norma sopan santun.
Dengan tegas, Viona menyatakan bahwa cara komunikasi yang lebih singkat tidak berarti kehilangan rasa hormat terhadap orang lain. Ia menjelaskan bahwa seringkali, penilaian terhadap gaya komunikasi ini tidak mempertimbangkan konteks atau maksud yang terkandung dalam setiap ucapan. Di era digital ini, komunikasi yang lugas justru merupakan bentuk adaptasi terhadap cara berinteraksi yang berkembang.
Walaupun gaya komunikasi Gen Z cenderung lebih santai, Viona juga menyadari pentingnya kemampuan beradaptasi, terutama di dunia profesional. Ia menggarisbawahi bahwa meskipun gaya komunikasi informal bisa diterima dalam banyak konteks, sikap formal tetap harus diterapkan ketika berhadapan dengan atasan atau profesional lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda mampu menyesuaikan diri dengan beragam situasi tanpa kehilangan identitas mereka.