Rabu, 23 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Pakar Menanggapi Dugaan Zat Arsenik dalam Makanan Bergizi Gratis di Blitar

Pakar Menanggapi Dugaan Zat Arsenik dalam Makanan Bergizi Gratis di Blitar

Pakar Menanggapi Dugaan Zat Arsenik dalam Makanan Bergizi Gratis di Blitar
Poin Penting:
  • 22 siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis di Blitar.
  • Dugaan awal menyebutkan adanya kandungan arsenik yang mungkin berasal dari pestisida.
  • Pakar menyarankan perlunya pemantauan ketat terhadap keamanan makanan untuk anak-anak.

Sebanyak 22 siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta yang berlokasi di Kecamatan Kepanjenkidul, Blitar, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga tanggal 21 September 2023, tim medis dan pihak berwenang masih melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sampel makanan yang didistribusikan kepada siswa-siswa tersebut. Salah satu dugaan yang sedang dalam penyelidikan adalah kemungkinan adanya kandungan arsenik dalam makanan yang dikonsumsi.

Makanan MBG tersebut mencakup nasi putih, kacang kapri, tahu kuning, rolade telur, dan melon. Titik Nur Azizah, Koordinator BGN Kota Blitar, menjelaskan bahwa ada indikasi adanya kandungan arsenik yang mungkin berasal dari residu pestisida yang digunakan pada bahan baku makanan tersebut. "Namun, kami belum dapat memastikan hal ini, sebab kami masih menunggu hasil dari laboratorium yang telah dikirimkan ke Surabaya," ungkap Titik.

Dalam hal ini, penting untuk meneliti lebih lanjut terkait kemungkinan arsenik dapat ditemukan dalam makanan. Nuri Andarwulan, seorang pakar dan Guru Besar di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, memberikan wawasan terkait masalah ini. Beliau menyatakan bahwa arsenik dapat terakumulasi di dalam pangan, tergantung pada cara pertanian dan pengolahan makanan yang dilakukan. Hal ini semakin menegaskan perlunya pemantauan ketat terhadap bahan makanan yang diberikan kepada anak-anak untuk menghindari risiko kesehatan yang lebih serius.

Kepada masyarakat Blitar, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap apa yang dikonsumsi, khususnya oleh generasi muda. Harapan besar diletakkan pada hasil pemeriksaan laboratorium yang diharapkan dapat memberikan kejelasan dan kepastian terkait keamanan makanan yang disajikan melalui program MBG ini.