Minggu, 02 Agustus 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Ekonomi Menimbang Metode Tanam Bawang Merah: Umbi vs. Biji TSS untuk Petani Blitar

Menimbang Metode Tanam Bawang Merah: Umbi vs. Biji TSS untuk Petani Blitar

Menimbang Metode Tanam Bawang Merah: Umbi vs. Biji TSS untuk Petani Blitar
Poin Penting:
  • Petani Blitar perlu mempertimbangkan metode tanam bawang merah yang tepat antara umbi dan biji TSS.
  • Metode umbi menawarkan kecepatan panen, tetapi memerlukan biaya yang cukup tinggi.
  • Penggunaan benih TSS dapat menjadi alternatif yang lebih hemat dan sehat, meski dengan waktu panen yang lebih lama.

BLITAR - Petani bawang merah di Blitar kini dihadapkan pada pilihan penting dalam metode budidaya mereka: menggunakan umbi atau benih True Shallot Seed (TSS). Kedua metode ini memiliki keuntungan dan tantangan masing-masing yang perlu dicermati agar para petani dapat mengambil keputusan yang bijaksana sesuai dengan kondisi lahan dan modal yang tersedia.

Selama bertahun-tahun, metode penanaman dari umbi menjadi andalan petani di Indonesia, termasuk Blitar. Bibit umbi yang dipilih dari hasil panen sebelumnya ditanam langsung ke bedengan setelah bagian ujungnya dipotong. Metode ini dikenal dengan keunggulan pertumbuhan yang cepat, memungkinkan petani untuk memanen bawang merah dalam rentang waktu sekitar 55 hingga 60 hari. Kecepatan ini berkontribusi pada perputaran modal yang lebih cepat bagi petani yang mengharapkan hasil dalam waktu singkat.

Namun, meski praktis, metode ini juga memiliki keterbatasan yang perlu dipertimbangkan. Biaya pengadaan bibit umbi dapat menyerap lebih dari 40 persen dari total biaya produksi, sehingga menjadi beban finansial yang signifikan bagi petani, terutama bagi mereka yang mengandalkan modal terbatas.

Di sisi lain, penggunaan benih TSS mulai mendapatkan perhatian sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan memberikan bibit yang lebih sehat. Meskipun memerlukan waktu lebih lama untuk panen, TSS menawarkan potensi hasil yang tinggi dan dapat mengurangi risiko serangan penyakit. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk mempertimbangkan dengan cermat kedua metode ini guna mencapai hasil panen yang optimal dan berkelanjutan.