- Soekarno lahir pada 6 Juni 1901, dan memiliki masa kecil yang penuh perjuangan.
- Ia dikenal sebagai orator ulung dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai langkah nyata memperjuangkan kemerdekaan.
- Peran Soekarno dalam perumusan dasar negara dan Proklamasi kemerdekaan menunjukkan visi dan komitmennya bagi bangsa.
JAKARTA – Biografi Soekarno, sang Proklamator yang kharismatik, terus menarik minat banyak pihak, terlebih bagi masyarakat Blitar yang merasa dekat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebagai presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno bukan hanya dikenal sebagai orator ulung dan pemimpin pergerakan nasional, tetapi juga sosok yang memikul beban dan tantangan hidup yang luar biasa. Dalam perjalanan panjangnya, Soekarno menunjukkan detak jantung perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan yang tercapai tanggal 17 Agustus 1945.
Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Masa kecilnya dihabiskan di Tulungagung dan Mojokerto, di mana pendidikan awalnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS). Berkat bantuan H.O.S. Tjokroaminoto, ia melanjutkan studinya ke Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Homestay di rumah Tjokroaminoto tidak hanya memudahkan akses pendidikan, tetapi juga memperkenalkannya pada tokoh-tokoh nasional lainnya yang menginspirasi semangat nasionalismenya.
Kecintaannya pada pendidikan mendorong Soekarno untuk melanjutkan studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng, kini Institut Teknologi Bandung (ITB), di mana ia meraih gelar insinyur pada 1926. Pendidikan teknik ini tidak hanya membentuk ilmunya, tetapi juga membekali Soekarno dengan visi untuk membangun Indonesia, termasuk dalam aspek arsitektur dan tata kota pasca-kemerdekaan. Selama masa studinya, Soekarno aktif di berbagai organisasi pemuda, termasuk Jong Java, di mana ia mulai dikenal luas berkat kemampuannya berpidato dan berani mengekspresikan gagasan-gagasan kebangsaan di hadapan pemerintah kolonial Belanda.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung, yang menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi bagi kaum intelektual muda, yang selanjutnya berkembang menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927. Melalui partai ini, ia menghidupkan semangat perjuangan untuk kemerdekaan, sehingga tindakan politiknya menarik perhatian serius pemerintah Hindia Belanda, dan akibatnya ia harus mendekam di penjara pada akhir 1929. Dalam penjara, Soekarno memberikan pidato terkenalnya "Indonesia Menggugat" yang hingga kini menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa.
Setelah dibebaskan pada 1931, jiwanya tetap membara untuk berjuang walaupun terpaksa diasingkan ke Ende, Flores, dan kemudian ke Bengkulu. Saat masa pendudukan Jepang dimulai pada 1942, Soekarno kembali menunjukkan kepemimpinannya melalui keterlibatannya dalam berbagai organisasi yang dibentuk Jepang. Meskipun dikritik, ia menggunakan kesempatan itu untuk mempersiapkan potensi kemerdekaan Indonesia. Soekarno berperan penting dalam penyusunan dasar negara dan naskah Proklamasi. Moment bersejarah terjadi pada Agustus 1945, saat ia dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Jepang, menandai puncak dari perjuangan panjangnya.