- Handoko dan Erna memilih slow living di Dusun Pakejen sebagai respons terhadap stres dan kesehatan.
- Kebun permakultur mereka menjadi sumber ketahanan pangan dan terapi alami.
- Pasangan ini aktif dalam mengedukasi masyarakat lokal mengenai pertanian organik dan pentingnya pendidikan.
Di tengah hutan hijau Dusun Pakejen, Kabupaten Purbalingga, sepasang suami istri, Handoko dan Erna, menempuh jalur baru dalam hidup mereka yang dikenal sebagai "slow living", sebuah gaya hidup yang menekankan ketenangan dan hubungan yang lebih dalam dengan alam. Mantan engineer pesawat terbang yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade di dunia aviasi ini, memilih untuk pensiun dan menetap di kaki Gunung Slamet, menjauhi kesibukan dan tekanan target pekerjaan yang selama ini mereka jalani di kota besar.
Keputusan untuk berpindah ke desa muncul pada awal pandemi 2020, saat Erna yang merupakan penyintas kanker tiroid, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai konsultan sekolah alam di Bandung. Mempertimbangkan kesehatan dan kebutuhan psikologisnya, mereka memutuskan untuk menjalani hidup yang lebih sederhana dan mandiri. Mereka menghadirkan sebuah kebun permakultur seluas 2.000 meter persegi, yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai terapi alami bagi kesehatan mereka.
Kebun mereka menghadirkan keragaman tanaman, mulai dari sayuran hingga tumbuhan herbal langka. Dengan metode organik, Handoko dan Erna memastikan hasil pertanian mereka bebas dari bahan kimia. Beberapa tanaman yang dibudidayakan termasuk pohpohan, pegagan, dan krokot, yang kaya akan omega-3 dan berkontribusi pada keberadaan lebah madu di area tersebut. Prinsip slow living telah membuat mereka mengubah cara berpikir; tidak lagi sekadar mengejar hasil panen, tetapi menikmati proses bercocok tanam. "Menanam mengajarkan kami kesabaran dan penerimaan," ungkap Handoko, yang kini menikmat hidup dengan penuh ketenangan.
Dengan kehadiran hewan liar dan keanekaragaman hayati yang tumbuh subur di pekarangan mereka, pasangan ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang nyaman tetapi juga berkontribusi pada ekosistem lokal. Selain berfokus pada pertanian, Handoko dan Erna juga meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dengan masyarakat setempat melalui program pengajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Dedikasi mereka tidak hanya memberi hasil panen, tetapi juga memberi kembali kepada komunitas, dengan mengajarkan pentingnya konsumsi sayuran organik dan mendukung warga putus sekolah untuk memperoleh pendidikan.