- Inner child bukan hanya terkait dengan trauma masa kecil, tetapi juga bagian dari ego state dalam psikologi.
- Konsep ego state menjelaskan keberadaan berbagai aspek kepribadian yang masing-masing memiliki tujuan positif.
- Memahami inner child bisa membantu proses penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup.
Blitar - Fenomena 'inner child' menjadi topik hangat yang sering diperbincangkan di ranah psikologi, khususnya di media sosial. Masyarakat umum sering kali mengaitkan konsep ini dengan berbagai situasi seperti trauma masa kecil, isolasi emosional, hingga reaksi kemarahan yang tak terduga. Namun, apakah semua tindakan tersebut benar-benar bersumber dari inner child yang terluka? Psikiater dr. Jinny Ardian, Sp.KJ, berupaya menjelaskan lebih dalam tentang makna sesungguhnya dari konsep ini, serta mengapa sering terjadi salah kaprah di kalangan masyarakat.
Menurut dr. Jinny, masih banyak orang yang menganggap inner child sebagai sekadar istilah untuk mendeskripsikan keadaan emosional yang tidak nyaman, yang kemudian dijadikan alasan bagi perilaku negatif. Padahal, inner child merupakan bagian dari sebuah kerangka kerja yang lebih besar dalam psikologi, dikenal sebagai ego state. Konsep ini menjelaskan bagaimana kepribadian manusia terdiri dari bagian-bagian yang berbeda, yang masing-masing memiliki peran dan cara kerja dalam menghadapi situasi.
Beliau mendemonstrasikan ini dengan contoh yang mudah dipahami, di mana saat bangun pagi, terdapat bagian dari diri yang ingin beristirahat karena merasa lelah, sementara bagian lainnya yang mendorong untuk segera bangun dan menjalani aktivitas sehari-hari. Dialog batin ini menunjukkan bahwa dalam diri setiap orang terdapat berbagai segmen dengan tujuan yang berbeda namun tetap positif. "Setiap bagian diri memiliki niat baik, hanya saja cara berinteraksi antar bagian tersebut kadang tidak berjalan selaras," ujar dr. Jinny.
Dengan penjelasan ini, diharapkan masyarakat Blitar dapat lebih bijak dalam memahami inner child. Memahami setiap bagian diri dapat menjadi langkah penting dalam proses penyembuhan, serta untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Akses terhadap pemahaman ini menjadi penting, terutama bagi mereka yang ingin lebih mengenali dan menyayangi diri mereka sendiri.