- Peternak Blitar mengobral ayam afkir untuk mendapatkan dana tambahan.
- Harga telur yang rendah mengancam keberlangsungan usaha peternakan.
- Langkah penjualan ayam afkir diambil sebagai jalan terakhir untuk membeli pakan.
Harga telur ayam yang terus menurun di Blitar telah memberikan dampak signifikan bagi peternak lokal. Untuk bertahan di tengah krisis ini, banyak peternak yang terpaksa menjual ayam afkir, yaitu ayam petelur yang sudah tidak produktif lagi. Penjualan ini bukan hanya sekadar mencari tambahan pemasukan, tetapi telah menjadi strategi penting untuk menjaga kelangsungan usaha mereka. Dikenal dengan kesulitan ini, peternak harus beradaptasi dan melakukan penyesuaian agar bisa memenuhi kebutuhan operasional yang semakin mendesak.
Bambang, salah satu peternak asal Kecamatan Nglegok, mengungkapkan bahwa harga telur saat ini, yang berkisar antara Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram, jauh di bawah biaya produksi mereka. Hal ini memaksa mereka untuk memikirkan cara kreatif agar bisnis tetap berjalan. “Kami menjual ayam afkir seharga Rp100 ribu untuk empat ekor. Dengan cara ini, setidaknya kami memiliki dana untuk membeli pakan, daripada mempertahankan ayam tersebut dalam kondisi yang tidak menguntungkan,” tuturnya.
Menghadapi tekanan ini, sebagian besar hasil dari penjualan ayam afkir langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan harian. Ini merupakan langkah terakhir yang diambil peternak agar mereka tetap dapat melanjutkan usaha peternakan di tengah ketidakpastian harga telur yang belum menunjukkan perbaikan. Adanya keprihatinan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh peternak lokal, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya dukungan masyarakat dan pemerintah dalam membantu sektor ini agar bisa pulih dan berkembang kembali.