Jumat, 11 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Kepala Sekolah di Pekalongan Dicopot Setelah Video Kontroversial Viral

Kepala Sekolah di Pekalongan Dicopot Setelah Video Kontroversial Viral

Kepala Sekolah di Pekalongan Dicopot Setelah Video Kontroversial Viral
Poin Penting:
  • Video CCTV menunjukkan perilaku tidak pantas antara kepala sekolah dan guru di Pekalongan.
  • Kepala sekolah telah dicopot dari jabatannya, sementara guru dipindah ke lokasi lain.
  • Disdikbud berkutat pada sanksi lebih lanjut setelah insiden ini.

Sebuah video rekaman CCTV yang menunjukkan interaksi tidak pantas antara seorang kepala sekolah dan seorang guru di Pekalongan telah menjadi viral di media sosial. Dalam rekaman berdurasi 21 detik tersebut, keduanya terlihat berhubungan intim di sebuah ruangan sekolah, meskipun masih berpakaian. Hal ini mengejutkan banyak pihak, terutama komunitas pendidikan setempat.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pekalongan segera mengambil langkah tegas dengan mencopot jabatan kepala sekolah tersebut dan memindahkan guru terlibat ke lokasi yang lebih jauh. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kholid, mengonfirmasi bahwa kedua individu tersebut, yang belakangan diketahui telah berumah tangga, sebelumnya sudah terindikasi menjalin hubungan khusus yang dianggap tidak pantas oleh rekan-rekan mereka di SD setempat.

Menurut Kholid, tindakan tersebut menjadi pelajaran penting bagi para pendidik untuk selalu memberikan contoh yang baik, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Kasus ini berawal dari pengawasan ketat pihak sekolah yang memasang CCTV untuk mengawasi aktivitas di lingkungan sekolah, yang puncaknya mengungkapkan perilaku yang dinilai vulgar dan tidak layak untuk seorang pendidik.

Saat ini, Disdikbud Kabupaten Pekalongan masih menunggu rekomendasi dari Plt Bupati Pekalongan untuk menetapkan sanksi lebih lanjut terhadap kedua oknum tersebut. Kholid berharap kasus ini bisa menjadi refleksi untuk memperbaiki etika dan moralitas di kalangan pendidik, demi menjaga reputasi institusi pendidikan dan mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat dan produktif.