- Kontes Sapi Blitar kembali digelar setelah jeda akibat wabah PMK.
- Lebih dari 200 ekor sapi unggulan berpartisipasi dalam sembilan kategori.
- Event ini menjadi sarana bertukar pengalaman dan meningkatkan mutu genetik ternak.
Kontes Sapi Blitar yang telah lama dinantikan akhirnya kembali digelar setelah dua tahun terhenti akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Event yang berlangsung di Pasar Hewan Terpadu (PHT) Wlingi ini menjadi simbol kebangkitan sektor peternakan di Kabupaten Blitar dan berfungsi sebagai platform untuk meningkatkan nilai jual ternak di pasaran. Dengan lebih dari 200 ekor sapi unggulan yang berpartisipasi dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ajang ini turut menegaskan keberagaman dan kualitas peternakan lokal.
Inisiatif yang diprakarsai oleh Perhimpunan Peternak Sapi Blitar (PSBB) bersama Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar menerima antusiasme luar biasa dari para peternak. Kontes ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi dalam sembilan kategori perlombaan, namun juga sebagai sarana berbagi pengalaman dan meningkatkan mutu genetik ternak. Hal ini sangat penting bagi peternak yang berupaya memperluas jaringan usaha dan memperoleh keahlian baru dalam bidang peternakan.
Kepala Disnakkan Kabupaten Blitar, Heri Widyatmoko, menjelaskan bahwa menurunnya kasus PMK menjadi faktor utama diadakannya kembali kontes ini. Kegiatan yang juga berfungsi sebagai ajang silaturahmi dan konsultasi bagi peternak ini diharapkan dapat menjadi tolok ukur kualitas ternak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai ekonomi sapi yang dipelihara. “Kami percaya bahwa kepercayaan diri peternak semakin pulih dan kegiatan ini penting untuk membangkitkan semangat usaha peternakan yang sempat meredup,” ujar Heri.
Selama dua hari penyelenggaraan, peserta bersaing di sembilan kelas yang diperlombakan, meliputi kelas pedet jantan dan betina, calon induk, serta kelas ekstrem. Yang menarik, seluruh biaya penyelenggaraan kontes ini ditanggung murni oleh inisiatif pelaku usaha peternakan dan para sponsor, tanpa menggunakan dana dari APBD. Keberhasilan kontes ini sekaligus menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara berbagai pihak dapat mendukung pengembangan sektor peternakan di tengah tantangan yang ada.