- Desil dalam DTSEN merupakan posisi relatif kesejahteraan suatu keluarga, bukan hanya berdasarkan penghasilan.
- Wacana pembatasan pembelian BBM subsidi mengacu kepada kelompok desil 9 dan 10, namun belum ada keputusan final dari pemerintah.
- Proses penentuan desil melibatkan berbagai sumber data untuk mendapatkan gambaran sosial ekonomi yang akurat.
Jakarta - Dalam ranah ekonomi, pemahaman tentang desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) semakin mendapat perhatian masyarakat, khususnya seiring dengan wacana pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang dialokasikan berdasarkan kelompok kesejahteraan. Di dalam skema yang saat ini sedang dibahas, kelompok masyarakat yang masuk dalam desil 9 dan 10 dipandang berpotensi terkena pembatasan dalam pembelian Pertalite, yang menjadi sorotan di berbagai daerah termasuk Blitar.
Namun, penting untuk dicatat bahwa wacana ini belum menjadi kebijakan final, karena pemerintah masih melakukan kajian mengenai mekanisme dan cara penerapannya. Di tengah diskusi tersebut, muncul berbagai pertanyaan yang mempertanyakan bagaimana cara penentuan desil dan kenapa ada individu yang tertera dalam kelompok desil tinggi meski merasa kondisi ekonomi mereka tergolong biasa, sebagaimana yang dialami oleh seorang warga dari Sragen, Jawa Tengah, yang terkejut mengetahui dirinya berada di desil 9 meskipun pendapatan bulanan hanya sekelas Upah Minimum Regional (UMR).
Kepala BPS Jawa Barat, Margareta Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa desil bukanlah sekadar pengukuran berdasarkan jumlah penghasilan, melainkan lebih kepada posisi relatif dari kesejahteraan suatu keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya. Dalam DTSEN, keluarga dibagi menjadi 10 kelompok atau desil berdasarkan kondisi sosial ekonomi yang kompleks dan multifaset.
Proses penentuan desil ini melibatkan integrasi dari berbagai sumber data seperti Regsosek, DTKS, dan P3KE, serta data tambahan dari PLN, Pertamina, BPJS Kesehatan, dan administrasi kependudukan. Dengan demikian, sangat jelas bahwa penempatan seseorang dalam suatu desil tidak bisa disimpulkan hanya dari satu parameter, seperti pendapatan atau daya listrik yang digunakan, melainkan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap keadaan sosial dan ekonomi keluarganya.