Rabu, 14 Oktober 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda › Umum › Karhutla Membara, Berimbas Sampai Singapura dan Malaysia: Sekolah Sudah Ditutup

Karhutla Membara, Berimbas Sampai Singapura dan Malaysia: Sekolah Sudah Ditutup

Karhutla Membara, Berimbas Sampai Singapura dan Malaysia: Sekolah Sudah Ditutup
Poin Penting:
  • Kebakaran hutan di Indonesia telah menyebabkan asap menyebar ke Singapura dan Malaysia.
  • Pangkal masalah semakin parah dengan adanya peningkatan titik panas yang mencolok di beberapa wilayah.
  • Dampak terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius dengan meningkatnya kasus ISPA di daerah terdampak.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memunculkan keprihatinan besar, ditandai dengan pergerakan asap yang mencapai hingga Singapura dan Malaysia. Fenomena ini menunjukkan dampak luas yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar titik kebakaran tetapi juga negara tetangga. Di Malaysia, kualitas udara yang menurun drastis hingga menyebabkan pihak berwenang di Johor Bahru terpaksa menutup sekolah-sekolah selama beberapa hari.

Data terbaru dari Kementerian Kehutanan mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah titik panas dari 437 titik pada 9 Oktober 2026 menjadi 793 titik pada 10 Oktober 2026. Salah satu daerah yang paling terpengaruh adalah Kalimantan Tengah, yang mencatat lonjakan titik panas dari 122 titik menjadi 288 titik dalam rentang waktu tersebut. Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Papua Selatan menjadi lokasi dengan jumlah titik panas terbanyak, mencapai 482 titik, diikuti oleh Sumatera Selatan dengan 234 titik.

Dampak kesehatan akibat kebakaran ini sangat terasa, khususnya di Palangkaraya, di mana kabut asap menyelimuti wilayah tersebut dan kualitas udara masuk dalam kategori berbahaya menurut Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Puskesmas Bukit Hindu melaporkan lonjakan pasien yang dirawat akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dengan jumlah pendaftaran pasien mencapai sekitar 80 orang per hari.

Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya, baik melalui operasi darat maupun pemadaman dari udara, tantangan cuaca serta kurangnya hujan di daerah terpengaruh menyulitkan proses penanganan. Pergerakan angin turut mempengaruhi penyebaran kabut asap, membuat situasi semakin kompleks dan memerlukan perhatian serta penanganan segera dari semua pihak.